Membaca Sebagai Gaya Hidup (2)

Membaca Sebagai Gaya Hidup (2)

Semua orang tahu, membaca itu perlu dan sangat bermanfaat. Membaca membuat cewek cakep menjadi semakin menarik dan “shiny”; dan cewek tidak cantik pun menjadi terlihat menarik. Membuat cowok keren menjadi semakin berkarisma; dan cowok yg biasa-biasa saja menjadi tampak gaya.

Sebaliknya, cewek atau cowok cakep yg tidak brainy (karena jarang atau tidak pernah membaca) betul-betul sangat membosankan, baik sebagai pribadi apalagi sebagai lawan bicara. Sejam atau dua jam berbicara dg mereka mungkin masih menarik karena periode ini biasanya dipakai untuk bertukar pengalaman dan kisah. Namun, tahankah kita berbicara dg bahan yg sama berulang-ulang? Dan tidak bosankah kita mendengar kisah atau penuturan lanjutannya yg hanya berupa gosip-gosip sampah terbaru? Anda pasti tidak akan tahan, kecuali apabila Anda satu golongan dengan mereka. Kalau cewek atau cowok cakep yg tidak gemar baca membuat kita bosan, bagaimana dg cewek atau cowok yg tidak cakep dan tidak gemar baca?

***

Membaca membuat otak yg awalnya cuma berisi “batu” berubah jadi zamrud; otak yg awalnya berbentuk kerang berubah menjadi mutiara; otak yg awalnya berbentuk pasir berubah menjadi emas. Isi otak kita adalah representasi dan akan meresonansi (menggaung) pada kepribadian dan perilaku keseharian kita dalam merespons terhadap sesuatu hal. Dan respons kita pada suatu atau banyak hal itu akan menentukan apakah kita pribadi yg brainy atau dummy.

Kendati begitu pentingnya gemar baca, tapi secara faktual membaca tidak menjadi tradisi generasi muda kita. Generasi muda Indonesia yg pengangguran atau yg sibuk bekerja kasar seharian di lapangan mungkin dapat dimaklumi apabila tidak suka atau tidak sempat membaca. Bagaimana dg mahasiswa atau masyakarat Indonesia yg bekerja “santai” di kantor tapi tidak suka membaca? Mengapa membaca tidak menjadi trend di kalangan mereka, khususnya di kalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa Indonesia di India? Bukankah mahasiswa identik dg tradisi intelektual yg tak dapat dicapai tanpa gemar membaca?

Ada beberapa faktor, pertama, sikap malas. Insting awal manusia umumnya pemalas. Namun, ego manusia –yg ingin eksistensinya diakui manusia lain–telah memaksa manusia untuk berbuat sesuatu untuk melawan insting malas tadi. Sayangnya, jalan menuju “pengakuan eksistensi” itu tidak dilakukan dg membaca.

Kedua, membaca dianggap sebagai suatu hal yang “tidak trendy” dan “tidak keren”. “Kutu buku” adalah julukan bagi mereka yang suka baca. Istilah ini membuat yg gemar baca jadi defensif dan terpojok. Sebaliknya, kalangan yg tidak suka baca semakin menjauh bukan malah mendekat.

Istilah memojokkan seperti itu hendaknya diganti dg istilah lain yg dapat lebih menarik generasi muda dan siapa saja yg belum menjadikan gemar baca sebagai life-style.

Membaca apa?

Apa yg harus dibaca? Menurut dr. Kartono Mohamad– mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kolomnis di berbagai media cetak dan anggota milis nasional ppiindia– mengatakan: “Bacalah apa saja yg Anda suka!” Koran, majalah, buku, komik, milis, dll. Membaca membuat kita tidak kekurangan bahan untuk berbicara dan menulis. Membaca membuat kita bisa berbicara dg siapa saja sesuai dg profesi lawan bicara kita. Bukan lawan bicara kita yg harus beradaptasi dg kita.

Salah satu perbedaan antara pribadi yg civilized (berperadaban) dg yg masih “tribal (kampungan)” adalah yg pertama bisa beradaptasi dg yg kedua; sementara yg kedua–disadari atau tidak– selalu menuntut agar orang lain beradaptasi dg dia.

Mahasiswa yg kuliah dan selalu naik tingkat itu indah. Dan mahasiswa yg gemar membaca dan tidak kampungan dalam bersikap dan merespons fenomena yg terjadi di sekitarnya–di level lokal, nasional dan internasional–akan lebih indah lagi.***

New Delhi, 6 Juni 2005

Scroll to top