Gramatika Bahasa Arab: Ilmu Sharaf Terjemah kitab Kailani
Pengantar Ilmu Sharaf
Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam dihaturkan pada Nabi Muhammad, keluarganya, Sahabatnya, seluruhnya.
Makna Tashrif (Ilmu Sharaf) – Morfologi
Perlu diketahui, bahwa tashrīf menurut lughat (etimologi) berarti mengubah, sedang menurut istilah adalah mengubah bentuk asal kepada bentuk-bentuk lain untuk mencapai arti yang dikehendaki yang hanya bisa tercapai dengan adanya perubahan.
Pembagian Fi’il (Kata Kerja)
Fi‘il itu ada yang tsulātsī (huruf asalnya tiga) dan rubā‘ī (huruf asalnya empat). Dari kedua macam fi‘il itu terbagi lagi, ada yang mujarrad (kosong dari tambahan) dan yang mazīd fīh (dengan tambahan satu, dua atau tiga huruf) dan dari kedua macam itu ada yang sālim (selamat dari huruf ‘illat) dan ghair sālim (yang berhuruf ‘illat).
Yang dimaksud dengan binā’ sālim, ialah fi‘il yang huruf asalnya sebanding dengan: fā’, ain dan lām wazan (فَعَلَ) selamat/terhindar dari huruf ‘illat atau hamzah atau tadh‘īf (dobel huruf).
Fi‘il tsulātsī mujarrad, terbagi sebagai berikut:
1 dan 2. Kalau fi‘il mādhī-nya ber-wazan fa‘ala, yakni di-fatḥah-kan ‘ain fi‘il-nya, maka fi‘il mudhāri‘-nya ber-wazan: yaf‘ulu atau yaf‘ilu, dengan dhammah ‘ain fi‘il-nya atau kasrah ‘ain fi‘il-nya.
Contoh: (ضَرَبَ يَضْرِبُ، نَصَرَ يَنْصُرُ)
3. Yang ber-wazan yaf‘alu di-fatḥah-kan ‘ain fi‘il-nya bila ‘ain fi‘il-nya atau lām fi‘il-nya terdiri dari salah satu huruf ḥalq, yaitu:
((ق)، خ، ح، غ، ع، ه، أ), seperti: (سَهَلَ يَسْهَلُ، مَنَعَ يَمْنَعُ، سَأَلَ يَسْأَلُ).
Adapun lafazh: (أَبَى يَأْبَى) adalah syādzdz (di luar kaidah).
Kiyasnya (أَبَى يَأْبِيْ), sebab hamzah-nya berada pada awal kalimat.
4. Kalau fi‘il mādhī-nya ber-wazan fa‘ila, yakni di-kasrah-kan ‘ain fi‘il-nya, maka fi‘il mudhāri‘-nya ber-wazan yaf‘alu dengan fatḥah ‘ain fi‘il-nya, seperti (عَلِمَ يَعْلَمُ، وَجِلَ يَوْجَلُ، بَخِلَ يَبْخَلُ).
5. Kecuali fi‘il yang syādzdz, seperti: (حَسِبَ يَحْسِبُ) dan akhwatnya, yaitu setiap fi‘il mādhī ber-wazan fa‘ila dan fi‘il mudhāri‘-nya ber-wazan (يَفْعِلُ), semuanya di-kasrah-kan, seperti: (وَمِقَ يَمِقُ).
6. Bila fi‘il mādhī-nya ber-wazan fa‘ula, yakni di-dhammah-kan ‘ain fi‘il-nya maka fi‘il mudhāri‘-nya ber-wazan yaf‘ula, di-dhammah-kan ‘ain fi‘il-nya, seperti: (حَسُنَ يَحْسُنُ، جَنُبَ يَجْنُبُ، ضَخُمَ يَضْخُمُ) dan sebagainya.
FI‘IL RUB‘ΠMUJARRAD
Fi‘il rubā‘ī mujarrad (fi‘il yang huruf asalnya empat), ialah ber-wazan fa‘lala, seperti: (دَخْرَجَ دَخْرَجَةً وَ دِخْرَاجًا) lafazh: (دَخْرَجَةً وَ دِخْرَاجًا), kedua-duanya itu mashdar, ber-wazan (فَعْلَلَةً وَ فِعْلَالًا).
FI‘IL TSULĀTSĪ MAZĪD
Fi‘il tsulātsī mazīd fīh terbagai tiga bagian, yaitu:Bagian pertama ada tiga bab, yaitu:
Fi‘il yang keadaan fi‘il mādhī-nya terdiri dari empat huruf, seperti:wazan (أَفْعَلَ) seperti: (أَكْرَمَ)
Asalnya (كَرُمَ), ditambah hamzah awalnya.wazan (فَعَّلَ) seperti: (فَرَّحَ).
wazan (فَاعَلَ) seperti: (قَاتَلَ), ( مُقَاتَلَةً ), (وَ قِتَالًا
YANG KEDUA :
Kalimah yang fi’il madhinya ada lima huruf : baik di awalnya ada huruf ta, seperti wazan تَفَعَّلَ (tafa’’ala) ; contoh : تَكَسَّرَ يَتَكَسَّرُ تَكَسُّرًا (takassara – yatakassaru – takassuran). Dan wazan تَفَاعَلَ (tafaa’ala) ; contoh : تَبَاعَدَ يَتَبَاعَدُ تَبَاعُدًا (tabaa’ada – yatabaa’adu – tabaa’udan). Atau di awalnya ada huruf hamzah, seperti wazan اِنْفَعَلَ (infa’ala) ; contoh : اِنْقَطَعَ يَنْقَطِعُ اِنْقِطَاعًا (inqatha’a – yanqathi’u – inqithaa’an). Dan wazan افْتَعَلَ (ifta’ala) ; contoh : اِجْتَمَعَ يَجْتَمِعُ اِجْتِمَاعًا (ijtama’a – yajtami’u – ijtimaa’an). Dan wazan افْعَلَّ (if’alla) ; contoh : اِحْمَرَّ يَحْمَرُّ اِحْمِرَارًا (ihmaara – yahmarru – ihmiraaran).
YANG KETIGA:
Kalimah yang fi’il madhinya ada enam huruf. Seperti wazan اسْتَفْعَلَ istaf’ala ; contoh : اسْتَخْرَجَ يَسْتَخْرِجُ اسْتِخْرَاجًا istakhraja – yastakhriju – istikhraajan. Dan wazan َافْعَالَّ if’aalla ; contoh : احْمَارَّ يَحْمَارُّ احْمِيْرَارًا ihmaarra – yahmaarru – ihmiiraaran. Dan wazan افْعَوْعَلَ if’au’ala ; contoh : اعْشَوْشَبَ يَعْشَوْشَبُ اعْشِيْشَابًا i’syausyaba – ya’syausyabu – i’syiibaaban. Dan wazan َافْعَنْلَلَ if’anlala ; contoh : اقْعَنْسَسَ يَقْعَنْسِسُ اقْعِنْسَاسًا iq’ansasa – yaq’ansisu – iq’insaasan. Dan wazan افْعَنْلَى if’anlaa ; contoh : اسْلَنْقَى يَسْلَنْقِيْ اِسْلِنْقَاءً islanqaa – yaslanqii – islinqaa-an. Dan wazan افْعَوَّلَ if’awwala ; contoh : اِجْلَوَّذَ يَجْلَوِّذُ اِجْلِوَّاذًا ijlawwadza – ijlawwadzu – ijliwwaadzan.
FI’IL RUBA’I MAZID
Adapun Ruba’i Mazid Fih.. maka contoh-contoh babnya ada tiga:
1. Wazan تَفَعْلَلَ (tafa’lala) ; contoh : تَدَحْرَجَ يَتَدَحْرَجُ تَدَحْرَجًا tadahraja – yatadahraju – tadahrujan.
2. Wazan افْعَنْلَلَ (if’anlala) ; contoh : احْرَنْجَمَ يَحْرَنْجِمُ احْرَنْجَامًا ihranjama – yahranjimu – ihranjaaman.
3. Wazan افْعَلَلَّ (if’alalla) ; contoh : اقْشَعَرَّ يَقْشَعِرُّ اقْشِعْرَارًا iqsya’arra – yaqsya’irru – iqsyi’raaran.
Perhatian :
Fi’il Muta’addi dan Fi’il Lazim.
Kalimah Fi’il (kata kerja) itu: ada yang Muta’addi (transitif), yaitu kalimah fi’il yang melampaui/menjangkau dari Fa’il sampai ke Maf’ul Bih; seperti contoh perkataanmu: (ضَرَبْتُ زَيْدًا ) “aku memukul pada Zaid”. Dinamakan pula Fi’il Waqi’ (mengena) dan Fi’il Mujaawiz (mencapai).
Dan ada yang tidak Muta’addi alias lazim (intransitif), yaitu kalimah fi’il yang tidak menjangkaukan Fa’il kepada Maf’ul; seperti contoh perkataanmu: حَسُنَ زَيْدٌ “ Zaid telah baik”. Dinamakan pula Fi’il Lazim (tetap) dan Fi’il Ghair Waqi’ (tidak mengena).
Cara memuta’addikan Fi’il Lazim di dalam Fi’il Taulatsi Mujarrad yaitu : Dengan men-tadh’if-kan (melipat/mendobelkan) ‘Ain Fi’ilnya, atau dengan Hamzah, contoh perkataanmu: فَرَّحْتُ زَيْدًا “aku menggembirakan zaid, dan أَجْلَسْتُهُ “aku mendudukkannya”.
Atau dengan huruf jar untuk semua (tsulatsi/ruba’i/mujarrad/mazid), contoh: ذَهَبْتُ بِزَيْدٍ “aku memberangkatkan zaid”, dan انْطَلَقْتُ بِهِ “aku memberangkatkannya”.
Tasrif Fi’il Madhi
Adapun Fi’il Madhi adalah: fi’il (kata kerja) yang menunjukkan suatu arti yang terjadi pada masa lampau.
Tasrif Fi’il Madhi Mabni Fa’il (Kalimat Aktif)
Adapun mabni fa’il dari fi’il madhi : adalah kalimah fi’il yang huruf awalnya di-fathah-kan, atau huruf awal berharakatnya di-fathahkan; contoh: نَصَرَ نَصْرَا نَصَرُوْا نَصَرَتْ نَصَرَتَا نَصَرْنَ نَصَرْتَ نَصَرْتُمَا نَصَرْتُمْ نَصَرْتِ نَصَرْتُمَا نَصَرْتُنَّ نَصَرْتُ نَصَرْنَا (nashara – nasharaa – nasharuu – nasharat – nasharataa – nasharna – nasharta – nashartumaa – nashartum – nasharti – nashartumaa – nashartunna – nashartu – nasharnaa. Dan qiaskanlah untuk contoh fi’il berikut ini: أَفْعَلَ af’ala, فَعَّلَ fa’’ala, فَاعَلَ faa’ala, فَعْلَلَ fa’lala, تَفَعْلَلَ tafa’lala, تَفَاعَلَ tafaa’ala, انْفَعَلَ infa’ala, افْتَعَلَ ifta’ala, افْعَنْلَلَ if’anlala, اسْتَفْعَلَ istaf’ala, افْعَلَلَّ if’alalla, افْعَوْعَلَ if’au’ala, dan افْعَالَّ if’aalla.
Dan janganlah mempertimbangkan Harakat alif pada semua permulaannya, sesungguhnya ia berupa Alif zaidah, stabil diawal pengucapan, dan gugur di tengah-tengah pengucapan.
Tasrif Fi’il Madhi Mabni Maf’ul (Kalimat Pasif)
Adapun mabni maf’ul dari fi’il madhi – yaitu kata kerja yang tidak disebutkan fa’ilnya/subjeknya – : adalah kalimah fi’il yang huruf awalnya di-dhammah-kan ; contoh: فُعِلَ fu’ila, فُعْلِلَ fu’lila, َأُفْعِلَ uf’ila, فُعِّلَ fu’’ila, فُوْعِلَ fuu’ila, تُفُعِّلَ tufu’’ila, تُفُوْعِلَ tufuu’ila dan تُفُعْلِلَ tufu’lila.
Atau kalimah fi’il yang huruf awal-berharakatnya didhammahkan; contoh: uftu’ila dan ustuf’ila.
Dalam hal dhammahnya Hamzah Washal, ia mengikuti harakat huruf awal-berharkat yang didhammahkan.
Fi’il madhi Mabni Maf’ul (mabni majhul) huruf sebelum akhir selamanya di-kasrahkan, contoh kamu mengucapkan: نُصِرَ زَيْدٌ dan اسْتُخْرِجَ الْمَالُ
Tasrif Fi’il Mudharik
Adapun Fi’il Mudhari’.. adalah Fi’il (kata kerja) yang diawalnya ada salah-satu huruf zaidah yang empat, yaitu: Hamzah, Nun, Ta, dan Ya. Terkumpul oleh lafadz perkataanmu: أَنَيْتَ (anaitu) atau lafazh أَتَيْنَ (ataina) atau lafazh نَأْتِيْ (na’tii).
HAMZAH untuk pembicara tunggal (mutakallim wahdah).
NUN untuk pembicara bilamana ada yg lain bersamanya (mutakallim ma’al ghair).
TA untuk orang kedua tunggal (mufrad mukhatab), atau dual (mutsanna mukhatab), atau jamak (majmu’ mukhatab), baik jenis laki-laki (mudzakkar) atau perempuan (muannats).
Juga untuk orang ketiga jenis perempuan tunggal (mufradah ghaibah) dan bentuk dualnya (ghaibataani).
YA untuk orang ketiga laki-laki (mudzakkar ghaib), baik mufrad, mutsanna atau jamak.
Juga untuk orang ketiga jamak perempuan (jama’ muannats ghaibah).
Fi’il Mudhari’ ini patut digunakan untuk zaman hal (sedang), dan untuk zaman istiqbal (akan datang). Contoh kamu berkata: زَيْدٌ يَفْعَلُ اْلآنَ (Zaidun yaf’alu al-aana) artinya: zaid sedang bekerja sekarang, maka dinamakan juga Fi’il Hal atau Hadir. Atau contoh زَيْدٌ يَفْعَلُ غَدًا (zaidun yaf’alu ghadan) artinya: zaid akan bekerja besok, maka dinamakan juga Fi’il Mustaqbal.
Bilamana pada fi’il mudhari kamu memasukkan huruf sin (س) atau saufa (سَوْفَ) seperti ucapanmu: سَيَفْعَلُ (sayaf’alu) atau سَوْفَ يَفْعَلُ (saufa yaf’alu)… maka tertentu pada zaman istiqbal. Dan bilamana pada fi’il mudhari kamu memasukkan huruf lam (ل) )… maka tertentu pada hal.
Tasrif Fi’il Mudhari’ Mabni Fa’il (Kalimat Aktif)
Fi’il Mudhari mabni fa’il (mabni maklum atau kalimat aktif) adalah huruf mudhara’ahnya berharkah Fathah. Kecuali Fi’il Mudhari’ yang bentuk Fi’il Madhinya berjumlah empat huruf, maka huruf mudhara’anya berharkah dhammah selamanya – contoh: Yudahriju, Yukrimu, Yuqaatilu, Yufarrihu. Tanda mabni fa’il ke-empat contoh ini, adalah huruf sebelum akhir berharkat kasrah selamanya.
Contoh-contoh Fi’il Mudhari’ Mabni Fa’il dari wazan Yaf’ulu -dengan dhammahnya ‘ain fi’il: Yanshuru – Yanshurooni – Yanshuruuna, Tanshuru – Tanshurooni – Yanshurna, Tanshuru – tanshurooni – tanshuruuna, Tanshuriina – Tanshurooni – Tanshurna. Anshuru, Nanshuru.
Dan kiaskanlah terhadap contoh tsb, untuk contoh: Yadhribu, Ya’lamu, Yudahriju, Yukromu, Yuqootilu, Yufarrihu, Yatakassaru, Yatabaa’adu, Yanqothi’u, Yajtami’u, Yahmarru, Yahmaarru, Yajlawwidu, Yastakhriju, Ya’syawsyibu, Yaq’ansisu, Yaslanqiy, Yatadahroju, Yahronjimu, Yaqsya’irru.
Tasrif Fi’il Mudharik Mabni Maf’ul (Kalimat Pasif)
Fi’il Mudhari Mabni Maf’ul (mabni majhul atau kalimat pasif) adalah huruf mudhara’ahnya berharkah Dhammah dan huruf sebelum akhir berharkah Fathah. Contoh: Yunshoru, Yudahroju, Yukromu, Yufarrohu, Yuqootalu, Yustukhroju.
Ma Nafi dan La Nafi
Ketahuilah, bahwa Maa Nafi dan Laa Nafi bisa masuk pada Fi’il Mudhari’, maka keduanya tidak merubah bentuk Fi’il Mudhari’, contoh kamu mengatakan: Laa Yanshuru – Laa Yanshurooni – Laa Yanshuruuna, Laa Tanshuru – Laa Tanshurooni – Laa Yanshurna, Laa Tanshuru – Laa Tanshurooni – Laa Tanshuruuna, Laa Tanshuriina – Laa Tanshurooni – Laa Tanshurna. Laa Anshuru, Laa Nanshuru.
Demikian juga contoh: Maa Yanshuru – Maa Yanshurooni – Maa Yanshuruuna… seterusnya sampai akhir.
Masuknya Amil Jazem dan Amil Nashab pada Fi’il Mudhari’
Juga (ketahuilah!) Amil yg memerintah jazem masuk pada fi’il mudhari’, maka ia membuang Harakah fi’il tunggal (LK), Harakah fi’il tunggal ghaibah (orang ketiga-PR), Nun Tatsniyah, Nun Jamak Mudzakkar dan Nun fi’il tunggal mukhatabah (orang kedua-PR).
Amil jazem tidak membuang Nun jama’ muannats; karena ia berupa dhamir, sebagaimana wawu pada jama’ mudhakkar. Maka ia tetap ada pada semua keadaan. Contoh kamu berkata: Lam Yanshur – Lam Yanshuroo – Lam Yanshuruu, Lam Tanshur – Lam Tanshuroo – Lam Yanshurna, Lam Tanshur – Lam Tanshuroo – Lam Tanshuruu, Lam Tanshurii – Lam Tanshuroo – Lam Tanshurna. Lam Anshur, Lam Nanshur.
Juga ketahuilah! Amil yg memerintah nashab masuk pada fi’il mudhari’, maka ia mengganti harakah dhammah ke harakah Fathah, membuang Nun selain Nun Jama’ Muannats. Contoh kamu berkata: Lan Yanshuro – Lan Yanshuroo – Lan Yanshuruu, Lan Tanshuro – Lan Tanshuroo – Lan Yanshurna, Lan Tanshuro – Lan Tanshuroo – Lan Tanshuruu, Lan Tanshurii – Lan Tanshuroo – Lan Tanshurna. Lan Anshuro, Lan Nanshuro.
Diantara amil-amil yg memerintah jazem adalah: Lam Amar, contoh kamu berkata untuk Amar Ghaib: Li Yanshur – Li Yanshuroo – Li Yanshuruu, Li Tanshur – Li Tanshuroo – Li Yanshurna. Demikian juga contoh: Li Yadhrib, Li Ya’lam, Li Yadkhul, Li Yudahrij dan lain-lain.
Diantaranya juga adalah: Laa Nahi, contoh kamu berkata untuk Nahi Ghaib: Laa Yanshur – Laa Yanshuroo – Laa Yanshuruu, Laa Tanshur – Laa Tanshuroo – Laa Yanshurna.
Dan untuk Nahi Hadir : Laa Tanshur – Laa Tanshuroo – Laa Tanshuruu, Laa Tanshurii – Laa Tanshuroo – Laa Tanshurna. Demikianlah juga kias untuk contoh-contoh yg lain.
Tasrif Fi’il Amar
Adapun fi’il amar bis-shiighah (bentuk khusus kata kerja perintah, tanpa membutuhkan tambahan lam amar) yaitu fi’il amar hadir (untuk mukhatab/org kedua). Maka ia terlaksana atas bentuk fi’il mudhari yang dijazemkan.
Jika setelah huruf mudhara’ah itu terdapat huruf berharkat, maka kamu buang huruf mudhara’ahnya, dan kamu datangkan untuk bentuk sisanya dengan dijazemkan. Contoh kamu mengucapkan Amar Hadir dari lafal fi’il mudhari “Tudahriju”: Dahrij – Dahrijaa – Dahrijuu, Dahrijii – Dahrijaa – Dahrijna. Demikian juga kamu berkata dalam contoh: Farrih, Qaatil, Takassar, Tabaa’ad, Tadahraj.
Jika setelah huruf mudhara’ah itu terdapat huruf mati/sukun, maka kamu buang huruf mudhara’ahnya dan kamu datangkan untuk bentuk sisanya dengan dijazemkan berikut di awal kalimahnya ditambahi hamzah washal yang kasrah, kecuali adanya ‘ain fi’il mudhari’ tersebut berharakat dhammah, maka kamu dhammahkan hamzah washalnya. Contoh kamu berkata: Unshur – Unshuroo – Unshuruu , Unshurii – Unshuroo – Unshurna. Demikian juga contoh: idhrib, I’lam, Inqothi’, Ijtami’, Istakhrij.
Mereka (orang arab/ulama sharaf) memberi harakat fat-hah terhadap hamzahnya lafazh Akrim, berdasarkan pada bentuk asalnya yang terbuang. Karena asal bentuk Tukrimu adalah Tuákrimu.
Berkumpulnya dua ta’ di awal Fi’il Mudhari’
Ketahuilah bahwa: bilamana ada dua TA’ berkumpul di awal fi’il mudhari’ dari fi’il madhi wazan Tafa’’ala, Tafaa’ala Atau Tafa’lala, maka boleh menetapkan keduanya. Contoh: Tatajannabu, Tataqootalu, Tatadahroju. Dan boleh membuang salah satunya, sebagaimana contoh dalam al-Qur’an (fa anta lahuu tashaddaa), fa andzartukum naaran talaz-zhoo), (tanazzalul-malaaikatu)
Kapankah Ta’-nya wazan ifta’ala diganti Tha’?
Ketahuilah, bilamana fa’ fi’il-nya wazan ifta’ala berupa shad, dhod, tha’, atau zha’, maka ta’-nya diganti dengan tha’. Contoh kamu berkata untuk wazan ifta’ala dari lafazh shulhi: “ishtholaha”, contoh dari lafazh dhorbi: “idhthoroba”, contoh dari lafazh thoroda: “iththoroda, dan contoh dari lafazh zhulmi: “tzhtholama” .
Begitu juga sisa bentuk-bentuk tasrifannya; contoh: ishtholaha – yashtholihu – ishthilaahan – fahuwa- mushtholihun – wadzaaka – mushtholahun ‘alaihi. Contoh fi’il amar: ishtholih!. Contoh fi’il nahi: laa tashtholih!.
Kapankah ta’-nya wazan ifta’ala diganti dal?.
(Ketahuilah), bilamana fa’ fi’il-nya wazan ifta’ala berupa dal, dzal, atau zai, maka ta’-nya diganti dengan dal. Contoh kamu berkata untuk wazan ifta’ala dari lafazh “dar-i, dzikri, zajri” menjadi “iddaro-a”, “idz-dzakaro”, “iz-dajaro”.
Kapankah Wawu, Ya’ dan Tsa’ wazan ifta’ala diganti Ta’?
(Ketahuilah), bilamana fa’ fi’il-nya wazan ifta’ala berupa wawu, ya’, atau tsa’, maka wawu, ya’, atau tsa’ tsb diganti ta’, kemudian di-idghamkan pada ta’-nya wazan ifta’ala. Contoh : “it-taqoo”, “it-tasaro”, dan “ittaghoro”.
Nun taukid khofifah dan Nun taukid tsaqilah
Masuk pada kalimah fi’il yg bukan bentuk lampau atau sedang, yaitu dua nun taukid (yg berfungsi untuk mengokohkan): 1- nun taukid khofifah yang sukun, 2- nun taukid tsaqila yang berharakat fat-hah; kecuali yang masuk pada fi’il tertentu, yaitu: fi’il untuk dual secara mutlaq (lk/pr), dan fi’il untuk jamak muannats (pr), maka nun taukid pada keduanya diharakati kasrah selamanya. Contoh kamu mengucapkan: “idz-habaanni” untuk fi’il dual, dan “idz-habnaanni” untuk jamak muannats –maka kamu masukkan huruf alif setelah nun jamak muannats, untuk memisahkan diantara banyak nun.
Jangan kamu masukkan nun taukid khafifah pada kedua fi’il tsb (fi’il dual dan fi’il jamak muannats) karena ini akan menetapkan bertemunya dua huruf mati pada bukan tempatnya. Sesungguhnya bertemunya dua huruf mati itu diperbolehkan hanya-sanya bilamana yg pertama huruf mad (alif/waw/ya) dan yg kedua huruf yg di-idghamkan. Contoh (dlm al-qur’an) “daabbah” dan “walad-dhoolliin”.
Nun (tanda rofa’) dibuang dari fi’il mudhari’ yang menyertai keduanya (nun taukid tsaqilan dan khofifah) didalam contoh-contoh af’alul khomsah (fi’il mudhari’ yg lima) yaitu lafal: “1. Yaf’alaani 2. Taf’alaani 3. Yaf’aluuna 4. Taf’aluuna dan 5. Taf’aliina”.
Demikian juga dibuang waw-nya lafal “yaf’aluuna” dan “taf’aluuna”. Dan ya’-nya lafal “taf’aliina”. Kecuali bilamana sebelum keduanya (wau dan ya’) ada harakat fat-hah, contoh: “laa takh-syawunna”, “laa takh-syayinna”, contoh dlm qur’an “la-tublawunna”, “fa imma taroyinna”.
Akhir kalimah fi’il yang bersamaan dg nun taukid, diharkati fathah bilamana berupa fi’il tunggal. Dan diharkati dhammah bilamana berupa fi’il jamak mudzakkar. Dan diharkati kasrah bilamana berupa fi’il tunggal untuk muannats mukhotobah (kamu-pr). Maka kamu berkata didalam contoh fi’il amar ghaib yg dikokohkan dengan nun taukid tsaqilah: “liyanshuronna – liyanshuroonni – liyanshurunna, litanshuronna – litanshuroonni – liyanshurnaanni”. Contoh yg khofifah: “liyanshuron – liyanshurun – litanshuron”.
Dan kamu berkata didalam contoh fi’il amar hadir yg dikokohkan dengan nun taukid tsaqilah: “unshuronna – unshuroonni – unshurunna, unshurinna – unshuroonni – unshurnaanni”. Contoh yg khofifah: “unshuron – unshurun – unshurin”.
Dan kiaskanlah atas ini untuk contoh-contoh persamaannya
Isim fa’il dan isim maf’ul dari fi’il tsulatsi mujarrad
Adapun isim fa’il dan isim maf’ul dari fi’il tsulatsi mujarrad, maka yang terbanyak isim fa’il ikut wazan “faa’ilun”, contoh kamu mengatakan: “naashirun – naashirooni – naashiruuna, naashirotun, naashirotaani – naashirootun, wa nawaashiru.
Dan yang terbanyak isim maf’ul ikut wazan “maf’uulun”, contoh kamu mengucapkan: “manshuurun – manshurooni – manshuruuna, manshuurotu – manshuurotaani – manshurootun, wa manaashiru”. Dan contoh: “mamruurun bihi – mamruurun bihimaa – mamruurun bihim – mamruurun bihaa – mamruurun bihimaa – mamruurun bihinna.
Maka kamu tatsniyahkan, jamakkan, mudzakkarkan atau muannatskan pada dhomirnya di dalam isim yang muta’addi dengan huruf jar, bukan pada isim maf’ulnya.
Terkadang ikut wazan “fa’iilun” sebagai isim fa’il, contoh: “ar-rohiimu” bermakna “ar-roohimu”, juga sebagai isim maf’ul, contoh “al-qotiilu” bermakna “al-maqtuulu”.
Bentuk Isim fa’il dan isim maf’ul dari fi’il lebih dari tiga huruf
Adapun fi’il lebih dari tiga huruf, maka kaidahnya (bentuk isim fa’il dan isim maf’ul) adalah: kamu harus memasang huruf mim yang dhommah di fi’il mudhari’nya, pada tempatnya huruf mudhoro’ah berada. Kemudian kamu mengkasrahkan huruf sebelum akhir untuk bentuk isim fa’il. Atau kamu memfat-hahkannya untuk bentuk isim maf’ul; contoh: “mukrimun” dan “mukromun”, “mudahrijun” dan “mudahrojun”, “mustakhrijun” dan “mustakhrojun”, “mutadahrijun” dan “mutadahrojun”.
Terkadang sama lafazh isim fa’il dan isim maf’ulnya di sebagian tempat, contoh seperti “muhaabbin”, “mutahaabbin”, “mukhtaarin”, “munqoodin”, “mudh-thorrin”, “mu’taddin”, “munshobbin & munshoobin fiihi”, “munjaabbin & munjaabbin ‘anhu”. Demikian pertimbangannya berbeda.
Pasal menerangkan tentang Fi’il Mudha’af
Disebut juga Fi’il Ashom, dikarenakan kerasnya.
Mudha’af dari fi’il tsulatsi mujarrad dan fi’il mazid fih, adalah kalimah fi’il yang ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya terdiri dari huruf sejenis; seperti contoh rodda dan a’adda; sesungguhnya asal keduanya adalah rodada dan a’dada; maka dal yang pertama disukunkan kemudian diidghamkan pada dal yang kedua.
Adapun mudha’af dari fi’il ruba’i: adalah kalmah fi’il yang fa’ fi’il dan lam fi’il pertama terdiri dari huruf sejenis, juga ‘ain fi’il dan lam fi’il kedua, terdiri dari huruf sejenis. Dan disebut juga “fi’il muthaabaq”. Contoh zalzala – yuzalzilu – zalzalatan wa zilzaalan.
Bahwasanya dimulhaqkannya fi’il mudhaaf pada fi’il mu’tal; karena sesungguhnya pada huruf tadh’if berlaku perubahan; contoh perkataan mereka: amlaytu asalnya amlaltu. Juga berlaku pembuangan; contoh perkataan mereka: mastu/mistu, zhaltu/zhiltu dengan fathah atau kasrahnya fa’ fi’il keduanya, juga contoh ahastu. Yakni asalnya: masistu, zhaliltu dan ahsastu.
Mudoaf itu suka diikuti idgham yaitu dengan mensukunkan huruf pertama dan memasukkannya (diidghamkan) pada huruf yang kedua. Huruf pertama disebut mudgham, huruf kedua disebut mudham fih.
Pembagian Idgham
1. Idgham yang wajib yaitu: apabila pada suatu kata berkumpul dua huruf sejenis dan keduanya berharkat. Contoh: madd-yamuddu asalnya madada – yamdudu. Demikian juga apabila kata ini dalam bentuk mabni maf’ul (kalimat pasif) seperti mudda – yumaddu dan kata yang menyerupainya. Juga pada kata “maddan” yaitu bentuk masdarnya, wajib idgham (asalnya madadan). Demikian juga apabila fiil mudoaf itu bertemu dengan alif dhamir tasniyah, wawu jamak atau ya’ muannas mukhatabah. Contoh fiil madhi: madda – maddaa – madduu. Contoh Fiil amar: mudda – muddaa – mudduu –
2. Idgham terlarang. Yaitu apabila dalam satu kata bertemu dua huruf sejenis sedangkan huruf kedua sukun dengan sukun yang lazim. Yang demikian itu terjadi pada fiil madhi yang bertemu dengan dhamir berharkat rofak (mutaharrik marfuk). Contoh, madadtu, madadna, dst. .
3. Idgham boleh. Yaitu, apabila dalam suatu kata berkumpul dua huruf yang sejenis dan huruf keduanya sukun dengan sukun yang tidak lazim yaitu apabila masuk amil yang menjazamkan kepada fiil mudharik yang mempunyai dhamir mufrad mudzakar seperti lam yamudda. lam yamdud, dst.
(a) Kalau fiil yang mempunyai dhamir mufrad mudzakar dikasrahkan ain fi’ilnya seperti yafirru, yaizzu, yahissu, boleh dengan dua cara tersebut.
(b) Atau fathah ain fi’ilnya seperti ya’adhu boleh dibaca lam yafirri dan lam ya’adhdhi, dengan kasrah ain fi’ilnya yaitu huruf ra’ dan dhad dan boleh juga difathahkan menjadi laf yafirra, lam ya’adhdha. Adapun kata lam yafirri asalnya lam yafrir dan lam ya’adhdha asalnya lam ya’dhadh. Demikian juga hukum kata yahmaarru
Apabila ain fiil mudharik didhommahkan, maka boleh dengan tiga harkat: fathah, kasrah, dhommah; idgham dan tanpa idgham. Contoh, لمْ يَمُدَُِّ
Boleh dhommah karena mengikuti harkat ain fi’ilnya.
Begitu juga hukum fiil amar, maka kata adhdhi bisa dibaca kasrah dan fathah lam fiilnya. Dan ifrir dan ighdad (tanpa idgham). Mudda, muddu, muddi dan umdud tanpa idgham.
Pasal Al-Mu’tal
Mu’tal adalah fi’il yang salah satu huruf asalnya terdiri dari huruf illat yang tiga yaitu huruf wawu, alif, ya’. Ketiganya disebut huruf mad atau lin. Dalam hal ini, alif menjadi ganti dari wawu aau ya. Jenis fi’il mu’tal ada tujuh sebagai berikut:
MU’TAL FA’ / BINA’ MITSAL
Fi’il Mu’tal yang pertama adalah : Mu’tal Fa’ (huruf illah ada di Fa’ Fi’ilnya) disebut juga bina’ Mitsal (serupa) karena keserupaannya dengan bina’ Shahih dalam hal dapat menerima harakat,
MU’TAL FA’ WAWI / BINA’ MITSAL WAWI
Adapun waw (mu’tal fa’ wawi/mitsal wawi) maka dibuang pada fi’il mudhari’nya yang mengikuti wazan yaf’ilu –dengan kasrah ‘ain fiilnya, juga pada isim mashdarnya yang mengikuti waza fi’latan –dengan kasrah fa’ fiilnya. Dan selamat pada sisa tashrifannya yg lain. Contoh kamu mengatakan: wa’ada – ya’idu – ‘idatan -wa- wa’dan -fahuwa- waa’idun -wadzaaka- maw’uudun – id, dan bentuk fi’il nahinya: laa ta’id. Demikian juga contoh: wamiqa – yamiqu – miqatan. Bilamana harakat kasrah pada huruf setelah waw dihilangkan, maka waw yang dibuang tsb dikembalikan. Contoh: lam yuu’ad.
Wawu itu tetap (tidak dibuang) didalam fi’il mudhari wazan yaf’alu dengan fathah ‘ain fi’ilnya; seperti wajila-yaujalu, dan bentuk fi’il amarnya adalah iyjal asalnya: iwjal waw diganti ya’ karena waw sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah, dan jika huruf sebelumnya berharakat dhommah, maka waw-nya dikembalikan, contoh kamu mengatakan yaa zaidu-wjal “hai zaid hati-hatilah!” Dilafazhkan dengan waw dan ditulis dengan ya.
Demikian juga wawu itu tetap (tidak dibuang) didalam fi’il mudhari wazan yaf’ulu dengan harakat dhommah ‘ain fi’ilnya; seperti wajuha-yaujahu, bentuk fi’il amarnya adalah uwjuh, bentuk fi’il nahinya adalah laa tawjuh.
Wawu fa’ fi’il juga dibuang pada fi’il mudhari’: yatha’u, yasa’u, yadha’u, yaqa’u dan yahabu; karena sesungguhnya lafazh-lafazh tsb pada asalnya mengikuti wazan yaf’ilu –dg kasrah ‘ain fi’ilnya. Setelah wawu fa’ fi’ilnya dibuang, kemudian ‘ain fiilnya difathahkan karena ada huruf halaq.
Wawu fa’ fi’il juga dibuang pada fi’il mudhari’: yadzaru, karena alasan searti dengan lafazh yada’u, mereka (orang arab) tidak mengindahkan fi’il madhinya lafazh yada’u dan yadzaru, adapun pembuangan fa’ fi’il, merupakan bukti bahwasanya yang dibuang adalah huruf wawu (mitsal wawi).
MU’TAL FA’ YA-I/ BINA’ MITSAL YA’I
Adapun ya (mu’tal fa’ ya-i/mitsal ya-i) maka ia tetap (tanpa dibuang) pada semua keadaan (baik harakat ‘ain fiil mudhari’nya dhommah, kasrah atau fathah) contoh “yamuna yaymunu”, “yasara yaysiru”, “ya-isa yay-asu”. Dan contoh kamu berkata untuk wazan af’ala (ruba’i): “aysaro yuusiru iisaaron” (asalnya yuysiru) fahuwa “muusirun” (asalnya muysirun), wadzaaka “muusarun” (asalnya muysarun) huruf ya-nya diganti wawu, karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf berharakat dhommah.
Mu’tal fa’ wawi/ya’i atau bina’ mitsal wawi/ya-i dalam mengikuti wazan af’ala
Dan contoh untuk wazan ifta’ala (khumasi) dari keduanya (mu’tal fa –mitsal wawi/yai) : maka waw/ya’ diganti ta’ kemudian di-idghamkan pada ta’nya ifta’ala.
Contoh:
“itta’ada” (asalnya iwta’ada), “yatta’idu” (asalnya yawta’idu), “itti’aadan” (asalnya iwti’aadan) fahuwa “mutta’idun” (asalnya muwta’idun) wadzaaka “mutta’adun” (asalnya muwta’adun). Dan contoh: “ittasaro – yattasiru – ittisaaron fahuwa muttasirun wadzaaka muttasarun” (asalnya sebanding dg itta’ada).
Terkadang juga diucapkan :
“iita’ada – yaata’idu fahuwa muuta’idun wadzaaka muuta’adun” dan “iitasaro – yaatasiru fahuwa muutasirun wadzaaka muutasarun bihi wa hadza makaanun muutasarun fiihi. (waw/ya sukun, diganti alif karena jatuh sesudah fathah, diganti ya karena jatuh sesudah kasrah dan diganti waw karena jatuh sesudah dhamma).
BINA’ MITSAL dan MUDHA’AF
Sedangkan ketetapan lafazh “wadda – yawaddu” (mu’tal fa’-mudho’af/mitsal+mudha’af) juga diberlakukan seperti ketetapan pada lafazh “‘adhdho – ya’idhdhu” (dalam hal wajib idgham, jaiz idgham, dilarang idgham dll, –lihat bab mudho’af/bab idgham pada perlajaran lalu). Contoh di dalam fi’il amarnya : “iidad” berlaku hukum separti “i’dhadh” (jaiz idham).
Fi’il mu’tal yang kedua adalah : mu’tal ‘ain (huruf illah ada di ‘ain fi’ilnya) disebut juga bina’ ajwaf (berlubang) atau disebut juga dzu tsalaatsah (si empunya 3 huruf) karena pada fi’il madhinya tetap tiga huruf saat kamu mengabari tentang dirimu contoh: “qu.l.tu” (qof, lam, ta) dan “bi.’.tu” (ba, ‘ain, ta).
Maka bentuk fi’il mujarradnya (tsulatsi mujarrad) ‘ain fi’il madhinya diganti alif, baik berupa waw atau ya, karena ia berharakat dan huruf sebelumnya berharakat fathah, contoh: shoona dan baa’a.
Jika (fi’il madhi mu’tal ‘ain/bina’ ajwaf tsb) bersambung dengan dhamir mutakallim atau mukhotob atau jama’ muannats ghaib, maka bina’ ajwaf wawi yang ikut wazan fa’ala (fathah ain fiil) dipindah dulu ke wazan fa’ula (dhommah ain fi’il) dan untuk bina’ ajwaf ya’i dipindah dulu ke wazan fa’ila (fathah ain fi’il) demikian ini sebagai penunjukan atas kedua huruf tsb (waw atau ya). Dan tidak ada pemindahan wazan fa’ula ataupun fa’ila, apabila wazannya memang asli demikian. Selanjutnya harakat dhammah atau kasrah tersebut, dipindah ke fa’ fi’ilnya kemudian ‘ain fi’ilnya dibuang karena bertemu dua huruf mati, contoh tashrif kamu berkata: shoona – shoonaa – shoonuu – shoonat – shoonataa – shunna – shuntu – shuntumaa – shuntum – shunti – shuntumaa – shuntunna – shuntu – shunnaa. Dan untuk contoh tashrif ajwaf ya’i: baa’a – baa’aa – baa’uu – baa’at – baa’ataa – bi’na – bi’ta – bi’tumaa – bi’tum – bi’ti – bi’tumaa – bi’tunna – bi’tu – bi’naa.
Apabila dibentuk mabni maf’ul (mabni majhul), maka fa’ fiilnya diharakati kasrah untuk semuanya. Contoh tashrif SHIINA… dan seterusnya, I’lalnya dengan Naql (pemindahan: harakat ‘ain fiil ke fa’ fiil) dan Qolb (pergantian: Wawu ke Ya). Dan untuk contoh tashrif BII’A… dst, cukup di-I’lal dengan Naql (pemindahan) saja.
Dan kamu berkata untuk contoh fi’il mudhari’nya: “YASHUUNU dan YABII’U”, keduanya di-I’lal dengan Naql saja. Sedangkan contoh “YAKHOOFU dan YAHAABU”, keduanya di-I’lal dengan Naql dan juga Qalb.
Masuknya Amil Jazm pada Mudharik Bina’ Ajwaf
Amil Jazem bisa masuk pada Fi’il Mudhari tsb (mu’tal ain/bina’ ajwaf baik wawi atau yai) maka ‘ain fi’ilnya dibuang bilamana huruf sesudahnya (lam fi’il) sukun, dan ditetapkan bilamana huruf sesudahnya berharakat.
Contoh kamu berkata: lam yashun – lam yashuunaa – lam yashuunuu, lam tashun – lam tashuunaa – lam yashunna, lam tashun – lam tashuunaa – lam tashuunuu, lam tashuunii – lam tashuunaa – lam tashunna, lam ashun – lam nashun.
Demikian juga qias contoh lafazh lam yabi’ – lam yabii’aa – lam yabii’uu,… dst. Dan lafazh: lam yakhof – lam yakhoofaa – lam yakhoofuu… dst. Dan qiaskan juga seperti itu yaitu bentuk fi’il amarnya, contoh: shun – shuunaa – shuunuu, shuunii – shuunaa – shunna.
وبالتأكيد: صُونَنَّ ، صُونانِّ ، صُونُنَّ * صُونِِنَّ ، صُونانِّ ، صُنْنانِّ. وبالخفيفة: صونن صونن صونن.
Dan kiaskan juga seperti itu (pelajaran lalu: masuknya amil jazm pada bina’ ajwaf) yaitu fi’il amar bersambung dengan nun taukid, contoh: shuunanna – shuunaanni – shuununna, shuuninna – shuunaanni – shunnaanni. Dan bersambung dengan nun taukid khofifah, contoh: shuunan – shuunun – shuunin.
وبِعْ ، بِيعا ، بِيعُوا * بِيعِي ، بِيعا ، بِعْنَ * وخَفْ ، خافا ، خافُوا * خافِي ، خافا ، خَفْنَ .
Demikian juga fi’il amar seperti contoh: bi’ – bii’aa – bii’uu, bii’ii – bii’aa – bi’na. Dan: khof – khofaa – khoofuu, khoofii – khofaa – khofna.
Masuknya Nun Taukid pada Fi’il Bina’ Ajwaf
وبالتأكيدِ : بِيعَنَّ ، بِيعانِّ ، بيعُنَّ * بيعِنَّ ، بِيعانِّ ، بِعْنانِّ * وخافَنَّ ، خافانِّ ، خافُنَّ * خافِنَّ ، خافانِّ ، خَفْنانِّ
Juga yg bersambung dengan nun taukid contoh: bii’anna – bii’aanni – bii’unna, bii’inna – bii’aanni – bi’naanni, dan : khoofanna – khoofaanni – khoofunna, khofinna – khofaanni – khofnaanni. Demikian juga yg bersambung nun taukid khofifah contoh: shuunan, bii’an, khoofan…. Dst.
3. Mu’tal Lam (Binak Naqish)
Jenis ketiga adalah mu’tal lam. Disebut juga binak naqis (kurang), dan punya empat huruf. Sebab keadaan fiil madinya empat huruf yakni apabila dimasuki dhamir mutakallim.
Huruf wawu dan ya’ ditukar alif apabila keduanya berharkat dan sebelumnya fatha seperti (غَزَا ، ورَمَى ، وعَصَا ، ورَحَى)
Demikian juga wawu dan ya’ harus diganti alif dalam fiil yang lebih dari tiga huruf. Seperti (أعْطَى ، واشْتَرَى ، واسْتَقْصَى). Isim maf’ul seperti (المُعطَى ، والمُشْتَرَى، والمُسْتَقْصَى). Apabila tidak disebut failnya (mabni majhul, kalimat pasif), seperti (يُعْطَى ، ويُغْزَى ، ويُرْمَى)
Adapun fiil madhi dari mu’tal lam, maka harus dibuang lam fiilnya.:
a. Dalam contoh ( فَعَلُوا ) secara mulak: mujarrad atau mazid; ain fiilnya fathah, kasrah, dhammah.
b. Pada misal ( فَعَلَتْ ) ( فَعَلَتَا ) yaitu setiap fiil madhi yang mempunyai dhamir ghaib muannas, bila huruf yang sebelumnya difathah.
c. Selain pada fi’il-fi’il di atas, lam fi’il harus tetap ada.
1. Kalau huruf sebelum wawu dhamir fathah, maka harkat fathah-nya ditetapkan. seperti (غَزَوْا ، ورَمَوْا)
2. Kalau huruf sebelum wawtu didhommahkan atau dikasrahkan, maka huruf sebelum wawu harus dhommah. Asal (رَضُوْا) adalah ( رَضِيُوْا) lalu harkat ya’ yang dhammah dipindah ke dhadh jadi (رَضُيْوْا), lalu ya’nya dibuang sebab ada dua huruf mati, jadi (رَضُوْا) .
Mu’tal Lam (Naqis) Mudharik
a. Adapun fiil mudhariknya, maka lam fiilnya harus disukunkan seperi tanda rafaknya. Seperti: (يغزو، يرمي، يرضي)
b. Buang lam fiilnya ketika jazm. Seperti (لم يغز، لم يرم، لم يرض)
c. Fathahkan ya’ dan wawu ketika nashab. Seperti (لن يغزو، لن يرمي)
d. Ketika nashabnya, alif tetap. Seperti (لن ينهي، لن يرضي)
e. Amil yang menjazamkan dan yang menasabkan menganulir beberapa nun tanda rafak, selain nun dhamir jamak muannas
f. Lam fiil (alif, wawu, ya’) tetap pada fiil yang mempunyai dhamir tasniyah dan dhami jamak muannas salim.
g. Lam fiil dibuang dari fiil yang mempunyai dhamir jamak mudzakar dan fiil yang mempunyai dhamir mufrad muannas. Contoh, (يَغْزُوْ ، يَغْزُوَانِ ), dst.
h. Begitu juga pada fiil mudharik mukal lam, antara lafadz yang mempunyai dhamir jamak mudzakar dan jamak muannas dalam mukhatab dan ghaibnya, seperti taghzuun, yaghzuuna, tetap takdirnya berbeda:
1. Maka wazan jamak mudzakar yaf’uuna seperti yaghzuuna asalnya yaghzuwuuna dan wazan taf’uuna untuk mukhatabnya seperti taghzuuna asalnya taghzuwuuna lalu dibuang wawu lam fi’ilnya menjadi taghzuuna.
2. Adapun wazan jamak muannas adalah yaf’ulna seperti yaghzuuna untuk ghaibnya, untuk mukhatabnya wazan taf’ulna seperti taghzuuna dengan tidak ada huruf yang dibuang.
Contoh: yarmi, yarmiyani, dst.
Adapun asal yarmuuna adalah yarmiyuuna. Lalu diberlakukan atasnya cara yang dilakukan pada lafadz radhuu. Yaitu, tarmuuna asalnya tarmiyuuna, lalu dhamma ya’ dipindah ke mim sebab berat membacanya jadi tarmuywna, lalu dibuang ya’ (lam fiilnya) karena ada dua huruf yang sukun.
Demikianlah hukum semua lafadz (kata) fiil yang huruf sebelum fiilnya kasrah seperti yahdii, yunaadii, dst. Lafadz ya’rawrii ikut wazan yaf’au’ilu. Contoh: yardhaa, yardhayaani, dst. Demikian juga lafadz yatamatta, yatasoobaa, dan yataqallasaa.
Adapun lafadz yang memiliki dhamir muannas mufrad pada dhamir mukhatab adalah seperti lafadz jamak muannas bab yarmii, yardhaa tetapi takdirnya berbeda.
Adapun wazan fiil mudharik yang berdhamir mufrad muannas mukhatabah ialah wazan taf’iina dan taf’aina. Sedangkan wazan jamak muannasnya adalah taf’iina dan taf’alna.
Fi’il Amar Naqish
Adapun fiil amar dari semua itu adalah sebagai berikut: ( اُغزُ ، اُغزُوَا ، اُغزُوْا * اُغْزِي ، اُغْزُوَا ، اُغْزُونَ . اِرْمِ ، ارْمِيا ، ارْمُوا * اِرْمِي ، ارْمِيا ، ارْمِينَ . وارْضَ ، ارْضَيا ، ارضَوْا * ارضَيْ ، ارضَيَا ، ارْضَينَ)
Apabila fiil amar dimasuki nun taukid saqilah atau khafifah maka lam fiil yang dibuang itu harus dikembalikan. Contoh (غْزُوَنَّ ، وارْمِيَنَّ ، وارْضَيَنَّ)
Isim Fail Naqish
Adapun isim fail dari semua itu adalah (غازٍ ، غازيانِ ، غازُونَ ، غازيةٌ ، غازيتانِ ، غازياتٌ ، وغوازٍ) begitu juga ( رامٍ ، وراضٍ ). Asal dari (غازٍ) adalah (غازِوٌ). wawu-nya ditukar ya’ sebab wawu hidup berada setelah kasrah jadi ghaaziyon. Lalu dhammahnya dibuang karena berat mengucapkannya jadi ghaaziyn. Lalu dibuang ya’ menjadi ghaazin.
Demikian juga, lafadz ( رامٍ ، وراضٍ ) dan asal ghaazin adalah ghaaziwon, waunya ditukar ya’ sebab wawu itu berada di ujung kalimat dan huruf sebelumnya kasrah, sebagaimana wawu yang ditukarkan pada lafadz ghazaa lalu lafadz ghaaziyaton sebab muannas itu cabang mudzakar dan ta’-nya sebagai alamat /tanda ta’nis (jenis perempuan).
Isim Ma’ful Naqish
Isim maf’ul sulasi mujarrad yang lam fiilnya muktal wawu ( مَغْزُوٌّ), dari mu’tal ya (مَرْمِيٌّ) asalnya (مرموي) wawunya ditukar ya dan huruf yang sebelumnya dikasrahkan. Karena, apabila wawu dan ya’ berkumpul dalam satu kata dan yang pertama sukun, maka wawu itu harus ditukar ya’ lalu ya’ itu diidghamkan pada ya’ lagi menjadi marmiyyon.
Pada wazan ( فَعُول ) dari mutal wawu (عَدُوّ) dari mutal ya ( بَغِيٌّ) . Pada wazan ( فَعِيل ) dari mutal wawu ( صَبِيٌّ). Dari mutal ya seperti (شَرِيٌّ )
Dalamm sulasi mazid wawu ditukar ya’, kalau sebelum ya’ ada fathah tukarkan pada alif seperti a’thawa menjadi a’thaa. Sebab setiap wawu yang berada pada huruf keempat atau lebih dari huruf sebelumnya tidak didhammahkan maka wawu itu harus ditukar ya’. Contoh: (أعْطَى ، يُعْطِي واعْتدَى ، يَعْتدِي واسْتَرْشَى ، يَسْتَرْشِي )
Contoh yang berdhamir marfuk (أَعْطَيْتُ ، واعْتدَيتُ ، واسْترْشَيتُ) demikian juga lafadz (تَغازَيْنا ، وتَراجَيْنا).
Binak Lafif Maqrun (Muktal Ain dan Lam)
Fi’l mu’tal ain dan lam, disebut juga lafif maqrun seperti (شَوَى ، يَشْوِي ، شَيّاً), ( رَمَى ، يَرْمِي ، رَمْياً) dan (قَوِيَ ، يَقْوَى ، قُُوّةً ), dst.
Adapun lafadz (أَرْوَى) itu seperti (أَعْطَى) dalam segi tasrifan dan i’lalnya. Lafadz (حَيِيَ) seperti (رَضِيَ). Lafadz (حَيَ) fi’il mudhariknya adalah (يَحْيى), dst.
Boleh dibaca ( حَيُوْا) dibuang ya’-nya satu tanpa takhfif, yaitu dibuang ya’ kedua. Fi’il amarnya adalah ( اِحْيَ) seperti (ارْضَ)
Binak Lafif Mafruq (Muktal Fa’ dan Lam)
Mu’tal fa’ dan lam disebut lafif mafruq sebab dua hruf illatnya terpisah oleh ain fiilnya seperti (وَقَى: يَقِي ، و قِى ، و قِيا ، و قُوا) dan (رَمَى ، رَمَيَا ، رَمَوا ، ويَقِيْ ، يَقِيانِ ، يَقُونَ). Dalam fiil amar ( قِ ), wajib memakai ha’ sakat pada wakafnya jadi (قِهْ), bentuk fiil amar lain: ( قِيَا ، قُوْا ، قِيْ ، قِيا ، قِينَ ). Contoh taukidnya: ( قِيَنَّ ، قِيَانِّ ، قُنَّ ، قِنَّ ، قِيانِّ ، قيْنانِّ). Nun taukid khafifah: (قِيَنْ ، قُنْ ، قِنْ). Nun taukid saqilah: (قِنَّ ، قِيانِّ ، قيْنانِّ)
Isim Makan
Mu’tal fa’ dan ain fi’il seperti lafadz (يَيْنَ) nama tempat. (يَوْمٍ) hari, (وَيْلٍ) nama neraka, tidak bisa dibentuk fiil.
Dua Huruf
Mu’tal fa’, ain dan lam seperti ( واوٌ) dan (ياءٌ) untuk dua nama huruf.
Fiil Binak Mahmuz (Fiil yang Berhamzah).
Hukum lafadz yang berhamzah (mahmuz) dalam tashrifnya itu sama dengan seperti bina’ sahih (sebab semuanya berharkat). Hamzah itu huruf sahih bukan huruf illat, tetapi kadang ditakhfif dengan cara ditukarkan pada huruf lainnya. Atau dibuang apabila berada di selain awal kata. Sebab hamzah itu huruf yang berat diucapkan yakni dari ujung kerongkongan.
Contoh: ( أَمَلَ ، يَأْمُلُ) seperti (نَصَرَ يَنْصُرُ). Fiil amarnya (أُوْمُلْ) lalu hamzah diganti wawu sebab berada sesudah harkat dhammah dan bila dua hamzah bertemu dalam sstu kata dan hamzah keduanya sukun, maka wajib mengganti hamzah dengan huruf yang sesuai dengan harkat sebelumnya yaitu bila harkat fathah diganti alif; dhammah dengan wawu; kasrah ditukar dengan ya’.
Fiil Madhi, Mudharik, Amar
Hamzah dalam kata fiil amar ( خُذْ كُلْ مُرْ ) dibuang tanpa qiyas karena banyak dilakukan orang Arab. Terkadang kembali ke asalnya seperti ( أُوْمُرْ ) saat wasal (bersambung dengan kata lain). Seperti firman Allah ( وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ)
Lafadz (أزَرَ ، يَأْزِرُ) dan (هَنَأَ ، يَهْنِئُ) itu seperti (ضَرَبَ ، يَضْرِبُ). Amarnya adalah ( إيزِرْ)
Lafadz (أَدُبَ ، يَأْدُبُ) seperti (كَرُمَ ، يَكْرُمُ ). Amarnya adalah ( أٌُوْدُبْ). Lafadz (سأَلَ ، يَسْأَلُ) seperti (مَنَعَ ، يَمْنَعُ). Amarnya adalah (اسْأَلْ). Boleh (سَلْ) .
Dengan nun taukid saqilah (رَيَنَّ ، رَيَانِّ ، رَوُنَّ * رَيَنَّ ، رَيَانِّ ، رَيْنَانِّ)
Nun taukid khafifah: (رَيَنَّ ، رَيَانِّ ، رَوُنَّ * رَيَنَّ ، رَيَانِّ ، رَيْنَانِّ) .
Bentuk Isim Zaman dan Makan (Kata Keterangan Waktu dan Tempat).
Isim zaman/makan dari wazan ( يفعِلُ) dengan kasrah ain fiilnya ikut wazan ( مَفْعِل) yang kasrah ain fiilnya seperti (مَجْلِسِ)
Isim Alat .
Isim alat adalah isim yang digunakan fail, untuk mencapai maf’ul itu. (Yakni, isim yang merupakan alat untuk mencapai tujuan, seperti: kunci untuk membuka pintu, cermin untuk bercermin, dsb). Bentuk isim alat itu ikut wazan (مِفْعَل ) seperti (( مِفْعَلَة ) و ( مِفْعال ) كمِحْلَب ، ومِكْسَحَة ، ومِفْتاح ، ومِصْفاة) Kata orang Arab (مِرْقاة) mengikuti cara di atas. Yang memfathahkan mim, maksudnya isim makan.
Syadz (tidak umum) isim alat ikut wazan (مُدهُن ، ومُسْعُط ، ومُدُقّ ، ومُنْخُل ، ومُحْرُضة) yang dhammah ain dan mimnya. Dan lafadz (مِدَقّ ، ومِدَقَّة) menurut qiyasnya.
Masdar Marrah .
(Masdar ada tiga macam yaitu masdar taukid, marrah, nau’). Adapun masdar marrah (yaitu masdar yang menunjukkan hitungan pekerjaan) dari sulasi mujarrad wazan ( فَعْلَة ) dengan fathah seperti (ضَرَبْتُ ضَرْبَةً وقُمْتُ قَوْمَةً )
Masdar marrah yang lebih dari tiga huruf, maka bentuknya adalah masdarnya dengan ditambah ta’ marbutah. Seperti (إعْطاءَةِ ، اِنْطِلاقَةِ). Kecuali kalau masdarnya sudah mengandung ta’ ta’nis dari sulasi dan lainnya maka harus ditambah sifat sekali. Seperti ( رَحِمْتُهُ رَحْمَةً واحِدَةً ، ودَحْرَجْتُهُ دَحْرَجَةً واحِدَةً )
Masdar Nau’
Wazan (فِعْلَةُ) dengan kasrah fa’ fiilnya untuk masdar nau’ (menentukan jenis) dari sesuatu pekerjaan seperti (هُوَ حَسَنُ الطِّعْمَةِ والجِلْسَةِ) – dia bagus makanan dan duduknya.[]
