Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form

Perlukah Sanad Keilmuan dari Guru ke Murid?

Posted on August 24, 2025August 24, 2025 By A. Fatih Syuhud

Ada sebuah artikel yang ditulis oleh seorang alumni santri pesantren salaf yang menyatakan bahwa sanad itu wajib hukumnya. Dalil yang dipakai adalah ucapan Abdullah bin Mubarak rahimahumullah di Muqaddimah kitab Shahih Muslim (hlm. 18) sbb:

الإسنادُ مِنَ الدِّينِ، ولولا الإسناد لَقالَ مَن شاءَ ما شاء

Artinya: “Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, pasti siapa pun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki.”

Selanjutnya, dari kutipan Abdullah bin Mubaharak ini si penulis itu menyimpulkan: “masyarakat harus memiliki guru yang mempunyai kemampuan dan sanad keilmuan yang jelas. Ini penting karena sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam berilmu agama.”

Betulkah sanad yang dimaksud Abdullah bin Mubarak itu sanad dalam arti umum seperti yang dinyatakan dalam artikel santri salaf ini? Jawabnya, tidak.  Sanad yang dimaksud adalah sanad hadits. Itu diucapkan ketika hadits belum dibukukan seperti sekarang. Ketika hadits-hadits Nabi sudah dibukukan sejak era Bukhari, Muslim, dll, maka sanad tidak lagi diperlukan oleh generasi setelahnya. Karena semua hadits sudah terkodifikasi dengan baik di kitab-kitab hadits tersebut sehingga tidak ada lagi potensi pemalsuan hadits.

Adapun perkataan Abdullah bin Mubarok itu konteksnya khusus untuk hadits dapat dipahami dari ucapannya lengkapnya sbb:

بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ

“Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh (dipercaya), dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari’at yang mulia”.

Penjelasan Imam Muslim terkait hal ini  juga sesuai dengan konteks hadits:

Ucapan Muslim berikut ditulis sebelum mengutip ucapan Abdullah bin Mubarak :

عن مسعر قال سمعت سعد بن إبراهيم يقول لا يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا الثقات وحدثني محمد بن عبد الله بن قهزاذ من أهل مرو قال سمعت عبدان بن عثمان يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Dari Mus’ir berkata : Saya mendengar Sa’d bin Ibrahim berkata : Tidaklah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali para perawi yang tsiqoh….dari ‘Abdan bin ‘Utsmaan berkata : Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata : Isnad merupakan bagian dari agama, jika bukan karena isnad maka orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa saja yang ia kehendaki”

Selanjutnya Muslim berkata :

قلت لعبد الله بن المبارك يا أبا عبد الرحمن الحديث الذي جاء إن من البر بعد البر أن تصلي لأبويك مع صلاتك وتصوم لهما مع صومك قال فقال عبد الله يا أبا إسحاق عمن هذا قال قلت له هذا من حديث شهاب بن خراش فقال ثقة عمن قال قلت عن الحجاج بن دينار قال ثقة عمن قال قلت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يا أبا إسحاق إن بين الحجاج بن دينار وبين النبي صلى الله عليه وسلم مفاوز تنقطع فيها أعناق المطي ولكن ليس في الصدقة اختلاف وقال محمد سمعت علي بن شقيق يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول على رؤوس الناس دعوا حديث عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف

“Abu Ishaaq bin ”Isa berkata : Aku berkata kepada Abdullah bin Al-Mubaarok, Wahai Abu Abdirrahman, hadits yang datang bahwasanya : ((Diantara berbakti setelah berbakti adalah engkau sholat untuk kedua orangtuamu beserta sholatmu dan engkau berpuasa untuk kedua orangtuamu bersama puasamu)). Beliau berkata : Wahai Abu Ishaaq, dari manakah hadits ini?. Aku berkata, “Ini dari periwayatan Syihaab bin Khiroosy”. Ibnul Mubaarok berkata : “Ia tsiqoh, lalu ia meriwayatkan dari siapa?”.

Aku berkata, “Dari Al-Hajjaaj bin Diinaar”. Beliau berkata : “Ia tsiqoh, lalu Hajjaj meriwayatkan dari siapa?”

Aku berkata, “(langsung) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”. Beliau berkata, “Wahai Abu Ishaaq antara Hajjaaj bin Diinaar dan Nabi ada padang pasir yang besar, butuh banyak onta untuk bisa menempuhnya. Akan tetapi tidak ada perbedaan pendapat tentang bersedekah (atas nama kedua orang tua)”…

Ali bin Syaqiiq berkata : “Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata di hadapan khalayak manusia : Tinggalkanlah periwayatan ‘Amr bin Tsaabit karena ia mencela para salaf” (Lihat Muqoddimah Shahih Muslim hal 16)

Kesimpulan

Ucapan Abdullah bin Mubarak yang dikutip Imam Muslim konteknya bersifat khusus. Yaitu, perlunya sanad yang bersambung sampai ke Rasulullah bagi setiap hadits yang diriwayatkan agar bisa diteliti integritas sanad / perawi-nya apakah kredibel (tsiqah) atau tidak.

Siapapun yang memakai ucapan Ibnu Mubarak sebagai dalil wajibnya ada sanad keilmuan di luar ilmu hadits itu adalah tidak benar dan tanpa referensi yang jelas.

Selain itu, anggapan seperti ini (bahwa harus ada sanad ke guru untuk setiap ilmu) akan berakibat pada kejumudan para santri.

 

 

Umum

Post navigation

Previous Post: Conditional Sentence in English Language
Next Post: Silaturahmi dianjurkan, Bertetangga dengan Kerabat Tidak

More Related Articles

Cara kaya tanpa warisan orang tua Umum
فتنةُ السَّرَّاءِ Umum
Trend Baru Artis Indo: Charity dan Baca Buku! Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Kalimat Verbal Masa Sekarang dalam Amiyah Arab Saudi
  • Angka Amiyah Arab Saudi
  • Kalimat Nominal Amiyah Tanya dan Negatif
  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Hukum Olahraga Beladiri Tinju, Gulat, Kungfu, Karate, Pencak Silat, dll
  • Hadis Larangan Memukul Wajah
  • Hukum Olahraga Bela Diri Karate Kungfu Pencak Silat, dll
  • Haplogroup Nabi Ibrahim
  • Syeikh Al-Azhar Ahmad Thaib Apresiasi Fatwa Ali Khamenei Haramkan Kebencian pada Sahabat Abu Bakar, Aisyah, Umar, Usman

fatihsyuhud.net

  • Metodologi Penafsiran Imam Syafi’i dalam Kitab Ahkam Al-Quran oleh A. Fatih Syuhud
  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim

islamiy.com

  • Bersambungnya Nasab Raja Yordania kepada Nabi Muhammad
  • Menguji Otentisitas Nasab Habib dan Polemik Kitab Ar-Raudul Jali
  • Analisis Kritis atas Klaim Nasab Ba’alwi
  • Habib Hina Muslim Pribumi sebagai Pesek Tembem Celengan Semar
  • Pangeran Diponegoro Diklaim Keturunan Habib Baalwi

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme