Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form
Gramatika Dasar Bahasa Arab Modern dan Klasik

Gramatika Bahasa Arab: Ilmu Nahwu

Posted on January 16, 2026January 16, 2026 By A. Fatih Syuhud

Berikut terjemahan kitab Al-Ajurumiyah kitab klasik tata bahasa Arab dasar terbaik yang belum ada tandingannya sampai saat ini. Pelajari pelan-pelan panduan ini dan silahkan tanyakan pada kami apabila ada yang tidak dimengerti. Kalau anda sudah pernah belajar kitab ini, maka lewati saja tahap ini.

GRAMATIKA BAHASA ARAB: KALIMAT SEMPURNA (AL-KALAM, AL-JUMLAH)

Telah berkata pengarang kitab ini (As Syaikh Ash Shanhajy) rahimahullah :

Al kalam (kalimat) adalah Lafadz (kata) yang tersusun yang berfaedah dengan bahasa arab. Penyusun kalimat itu ada tiga: Isim, fi’il, dan huruf yang memiliki arti.

(1) Isim itu dapat dikenali dengan keberadaan khafadh, tanwin, dan kemasukan alif dan lam. Huruf khafadh itu adalah :

مِنْ (dari), إِلَى(ke), عَنْ (dari), عَلَى(di atas),فِي (di), رُبَّ (jarang), بِ (dengan), كَ (seperti), لِ (untuk) Isim dapat dikenali juga dengan huruf qasam (sumpah) yaitu waw, ba dan ta.

(2) Fiil itu dikenali dengan keberadaan:

قَدْ (sungguh/terkadang), سَ (akan) ، سَوْفَ(akan) ، تَاءِ اَلتَّأْنِيثِ اَلسَّاكِنَةِ (ta ta’nits yang mati)

(3) Huruf itu adalah sesuatu yang tidak memenuhi ciri-ciri isim dan fi’il

I’RAB

I’rab itu adalah berubahnya akhir kata karena perbedaan amil-amil yang masuk atasnya baik secara lafadz atau taqdir. Pembagian i’rab itu ada empat: Rafa’, Nashab, Khafadh /Jar, Jazm.

Setiap isim itu bisa dalam kondisi rafa’, nashab, khafad akan tetapi tidak mungkin dalam kondisi jazm

Setiap fi’il itu bisa dalam kondisi rafa’, nashab, jazm akan tetapi tidak mungkin dalam kondisi khafadh.

GRAMATIKA BAHASA ARAB: MENGENAL TANDA-TANDA I’RAB

TANDA I’RAB RAFA’

Rafa’ memiliki empat tanda: Dhammah, Huruf Waw, Huruf Alif, Huruf Nun

Dhammah menjadi tanda bagi rafa’ pada empat tempat : Isim Mufrad, Jama’ taktsir, Jama’ muannas salim, dan, Fi’il mudhari’ yang tidak bersambung di akhirnya dengan sesuatu.

Huruf Waw menjadi tanda bagi rafa’ pada dua tempat : Jama’ mudzakkar salim, dan Isim-isim yang lima yaitu أَبُوكَ, وَأَخُوكَ, وَحَمُوكَ,
وَفُوكَ, وَذُو مَالٍ

Huruf Alif menjadi tanda bagi i’rab rafa’ pada isim-isim tasniyah saja.

Huruf Nun menjadi tanda bagi rafa’ pada fi’il mudhari yang bersambung dengan: dhamir tasniyah, dhamir jama’, dan dhamir muannas mukhatabah.

TANDA I’RAB NASAB

I’rab Nashab memiliki lima tanda: Fathah, Huruf alif, kasrah, Huruf Ya, membuang nun (af’al al-khamsah)

Fathah menjadi tanda bagi nashab pada tiga tempat : Pada Isim Mufrad, Jama’ taksir, dan fi’il Mudhari apabila masuk atasnya amil yang menashobkan dan tidak bersambung di akhirnya dengan apapun.

Huruf Alif menjadi tanda bagi nashab pada isim-isim yang lima contohnya :

رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاك (aku melihat bapakmu dan saudaramu) dan seterusnya.

Kasrah menjadi tanda bagi nashab pada jama’ muannas salim.

Huruf Ya menjadi tanda bagi nashab pada tatsniyah dan jama’ (mudzakkar salim)

Hadzfunnuun (membuang huruf nun), menjadi tanda bagi nashab pada fi’il-fi’il yang lima yang ketika rafa’nya dengan tetap nun.

TANDA I’RAB JAR / KHAFADH

Khafadh memiliki 3 tanda: Kasrah, Huruf Ya, Fathah

Kasrah menjadi tanda bagi i’rab khafadh pada tiga tempat: Isim Mufrad yang menerima tanwin, jama’ taksir yang menerima tanwin, dan
jama’ muannats salim.

Huruf ya menjadi tanda bagi khafadh pada tiga tempat: Pada isim-isim yang lima (al asmaul khamsah), Isim Tasniyah, dan jama’.

Fathah menjadi tanda bagi khafadh pada isim-isim yang tidak menerima tanwin (isim ghairu munsharif).

TANDA JAZM

Jazm memiliki 2 tanda: Sukun, Al hadzfu (membuang).

Sukun menjadi tanda bagi jazm pada fi’il yang shahih akhirnya.

Al hadzfu menjadi tanda bagi jazm pada fi’il mudhari yang mu’tal akhirnya dan pada fi’il-fi’il yang ketika rafa’nya dengan tetap nun.

KATA-KATA YANG DI I’RAB

Kata yang di- i’rab itu ada dua: Kata yang di-i’rab dengan harkat (baris), Kata yang di-i’rab dengan huruf.

Kata yang di-i’rab dengan harkat itu ada empat macam : Isim Mufrad,
Jama’ taktsir, Jama’ muannas salim, dan Fi’il Mudhari’ yang tidak bersambung akhirnya dengan sesuatu.

Semua kata itu di-rafa’-kan dengan dhammah, di-nashab-kan dengan fathah, dan di-jazm-kan dengan sukun kecuali untuk tiga kondisi;
– jama’ muannats salim di-nashab-kan dengan kasrah
– Isim ghairu munsharif di-khafadh-kan dengan fathah
– fi’il mudhari’ mu’tal di-jazm-kan dengan membuang akhirnya

Kata yang di-i’rab dengan huruf itu ada empat macam : Isim Tatsniyah, Jama’ mudzakkar salim, isim-isim yang lima, dan fi’il-fiil yang lima, yaitu: يَفْعَلَانِ، وَتَفْعَلَانِ، وَيَفْعَلُونَ، وَتَفْعَلُونَ،
وَتَفْعَلِينَ

– Isim tasniyah : di-rafa’-kan dengan huruf alif, di-nashab-kan dengan huruf ya dan di-khafadh-kan dengan huruf ya.
– Jama’ mudzakkar salim: dirafa’kan dengan huruf waw, di-nashab-kan dengan huruf ya dan di-khafadh-kan dengan huruf ya.
– Isim-isim yang lima: di-rafa’-kan dengan huruf waw, di-nashab-kan dengan huruf alif, dan di-khafadh-kan dengan huruf ya.
– Fi’il-fi’il yang lima: di-rafa’-kan dengan huruf nun, di-nashab-kan serta di-jazm-kan dengan membuang huruf nun.

KATA KERJA (FI’IL)

Fi’il itu ada tiga :1. Fiil Madhi 2. Fiil Mudhari’ 3. Fiil Amr Contohnya ضَرَبَ (madhi), (mudhari’) يَضْرِبُ, (‘amr) اِضْرِبْ

– Fiil Madhi itu selalu di-fathah-kan
– Fiil amar selalu di-jazm-kan
– Fiil mudhari’ itu fiil yang di awalnya terdapat salah satu dari huruf tambahan yang empat yang terkumpul dalam perkataan أَنَيْتُ(hamzah, nun, ya, dan ta). Fiil mudhari’ itu selalu di-rafa’-kan kecuali ada amil (huruf) nashab atau jazm yang masuk padanya.

AMIL NASHAB

Amil nashab (hal yang me-nashab-kan fi’il) itu ada sepuluh, yaitu:
أَنْ(bahwa), لَنْ (tak akan), إِذَنْ (jadi, kalau begitu), كَيْ (supaya), لَامُ كَيْ (lam dengan makna supaya), لَامُ اَلْجُحُودِ (lam pengingkaran), حَتَّى (sehingga), الْجَوَابُ بِالْفَاءِ, الْوَاوِ, أَوْ(kalimat jawab dengan fa, wa, dan aw).

Amil jazm (perkara yang me-jazam-kan fi’il) itu ada delapan belas, yaitu :

لَمْ (tidak), لَمَّا(belum), أَلَمْ(tidakkah?), أَلَمَّا(belumkah?), لَامُ اَلْأَمْرِ وَالدُّعَاءِ(Lam untuk perintah dan permohonan), ”لَا” فِي اَلنَّهْيِ وَالدُّعَاءِ(la untuk larangan dan permohonan), إِنْ (jika)،مَا (apa)، مَنْ (siapa)،مَهْمَا(apapun), إِذْمَا (kalau)، أَيٌّ (mana, sesuatu apa)، مَتَى(kapan), أَيْنَ (dimana) أَيَّانَ (kapan), أَنَّى(bagaimana), حَيْثُمَا(dimanapun), كَيْفَمَا(bagaimanapun), إِذًا فِي اَلشِّعْرِ خاصة. (dan “Jika demikian” khusus pada syair).

ISIM-ISIM YANG RAFA’

Isim-isim yang di-rafa’-kan itu ada tujuh :1. Isim Faa’il 2. Isim Maf’ul yang tidak disebut failnya (naaibul fa’il) 3. Mubtada 4. khabar mubtada 5. Isim Kaana dan saudara-saudaranya 6. khabar inna dan saudara-saudaranya 7. pengikut dari yang di-rafa’-kan, yaitu ada empat : Na’at, ‘athaf, taukid, dan badal

FAIL (SUBYEK) KALIMAT VERBAL

Fa’il (pelaku) termasuk isim yang di-rafa’-kan yang disebut setelah fi’il (perbuatan) nya.

Dan fa’il itu ada dua jenis: 1. Fa’il isim dzhahir 2. Fa’il isim dhamir.
Contoh fa’il isim zhahir:

قَامَ زَيْدٌ، وَيَقُومُ زَيْدٌ، وَقَامَ الزَّيْدَانِ، وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ، وَقَامَ الزَّيْدُونَ، وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ، وََقامََ الرِّجَالُ، وَيَقُوُمَ الرِّجَالُ، وَقَامَتْ هِندٌْ، وَتَقُومُ هِندُْ، وَقَامَتْ الِْهنْدَانِ، وَتَقُومُ الِْهنْدَانِ، وَقَامَتْ الِْهنْدَاتُ،َ وتَقُومُ الِْهنْدَاتُ، وَقَامَتَْ الْهنُُودُ، وَتَقُومُ اَلْهنُُودُ، وَقَامَ أَخُوكَ، وَيَقُومُ أَخُوكَ، وَقَامَ غُلَامِي،وَيَقُومُُ غلَامِي

Artinya: Zaid telah berdiri, Zaid sedang berdiri, Dua orang (bernama) Zaid telah berdiri, Dua orang (bernama) Zaid sedang berdiri, Orang-orang (bernama) Zaid telah berdiri, Orang-orang (bernama) Zaid sedang berdiri, Para laki-laki telah berdiri, Para laki-laki sedang berdiri, Hindun telah berdiri, Hindun sedang berdiri, Dua orang (bernama) Hindun telah berdiri, Dua orang (bernama) Hindun sedang berdiri, Orang-orang bernama hindun telah berdiri, Orang-orang bernama hindun sedang berdiri, Hindun-hindun telah berdiri, Hindun-Hindun Sedang berdiri, Saudara laki-laki mu telah berdiri, Saudara laki-laki mu sedang berdiri, Budak ku telah berdiri, Budak ku sedang berdiri

Contoh fail isim dhamir ada 12 yaitu:

ضَْربتُ،َ وَضَرْبناَ، وََضَرْبتَ،وََضَْربتِ،َ وَضَرْبتُمَا،َ وَضَْربتُمْ،َ وَضَْربتُنَّ، وََضَرَب،َ وَضَرَبتْ،َ وَضَرَبا،َوَضَرُبوا،وَضَرْبنَ.

Artinya (dari kanan ke kiri): aku telah memukul, kami telah memukul, kamu (lk) telah memukul, kamu (lk) telah memukul, , kalian berdua telah memukul, kalian (lk) telah memukul, kalian (pr) telah memukul, dia (lk) telah memukul, dia (pr) telah memukul, mereka berdua telah memukul, mereka (lk) telah memukul, mereka (pr) telah memukul

NAIBUL FA’IL (SUBYEK KALIMAT PASIF)

Naibul fa’il adalah isim yang di-rafa’-kan yang tidak disebut bersamanya fa’ilnya

Jika fi’il madhi maka huruf pertama nya di-dhammah-kan dan satu huruf sebelum huruf terakhir dikasrahkan.

Jika fi’il mudhari’ maka huruf pertama nya di-dhammah-kan dan dan satu huruf sebelum huruf terakhir difathahkan.

Na’ibul fa’il itu ada dua:1. Naibul fa’il isim dzhahir 2. Naibul fa’il isim dhamir.

Naaibul faa’il isim dzhahir itu contohnya:

(ضُِرَبَ زْيدٌ ) وَ ( يُضَْرُبَ زْيدٌ ) وَ ( أُكْرِمَ عَمْرٌو) وَ ( يُكْرَمُ عَْمرٌو).

(Zaid telah dipukul, Zaid sedang dipukul, ‘Amr telah dimuliakan, ‘Amr sedang dimuliakan).

Naibul fa’il isim dhamir ada 12 contohnya:

ضْربتَُ وُِضرْبناَ،َ وُضِرْبتَ،َ وُضِرْبِت، وَُضِرْبتُمَا،َ وُضِرْبتُمْ،َ وُضِرْبتُنَّ،وَضُِرَب،َ وُضِرَبتْ،
وَُضِرَبا،َوُضِرُبوا،وُضِربن

(aku telah dipukul, kami telah dipukul, kamu (lk) telah dipukul, kamu (lk) telah dipukul, kalian berdua telah dipukul, kalian (lk) telah dipukul, kalian (pr) telah dipukul, dia (lk) telah dipukul, dia (pr) telah dipukul, mereka berdua telah dipukul, mereka (lk) telah dipukul, mereka (pr) telah dipukul).

MUBTADA’ (SUBYEK KALIMAT NOMINAL) DAN KHABAR (PREDIKAT KALIMAT NOMINAL)

Mubtada adalah isim yang di-rafa’-kan yang terbebas dari amil-amil lafadzh.

Khabar adalah isim yang di-rafa’-kan yang disandarkan kepada mubtada’.

Contohnya:“زَيْدٌ قَائِمٌ” وَ”الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ” وَ”الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ “ (Zaid berdiri, Dua orang Zaid berdiri, Zaid-zaid (orang-orang yang bernama zaid) berdiri).

Mubtada itu ada dua jenis:1. Mubtada isim zhahir 2. Mubtada isim dhamir.

Mubtada isim zhahir itu sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (seperti contoh di atas).

Sedangkan Mubtada isim dhamir itu ada dua belas yaitu:

أَنَا ، وَنَحْنُ ، وَأَنْتَ ، وَأَنْتِ ، وَأَنْتُما ، وَأَنْتُم ، وَأَنْتُنَّ ، وَهُوَ ، وَهِيَ ، وَهُمَا، وَهُمْ ، وَهُنَّ

(saya, kami, kamu (lk), kamu (pr), kalian berdua, kalian (lk), kalian (pr), dia (lk), dia (pr), mereka berdua, mereka (lk), mereka (pr))

Contoh: ، أَنَا قَاْئِمٌ ، وَنَحْنُ قَاْئِمُوْنَ (saya berdiri, kami berdiri).

Khabar itu ada dua jenis:1. Khabar mufrad2. Khabar ghair mufrad. Khabar mufrad itu contohnya زَيْدٌ قَائِمٌ (Zaid berdiri).

Sedangkan khabar ghair mufrad itu ada empat :1. Jar dan majrur 2. dzharaf3. fi’il beserta faa’ilnya4. Mubtada beserta khabarnya. Contohnya:زَيْدٌ فِى الدَّارِ وَزَيْدٌ عِنْدَكَ وَزَيْدٌ قَامَ اَبُوْهُ وَزَيْدٌ جَارِيَتُهُ ذَاهِبَةٌ(Zaid ada di dalam rumah, Zaid ada di sisi mu, Zaid itu berdiri bapaknya, Zaid itu budaknya pergi).

AMIL YANG MASUK PADA MUBTADA’ DAN KHABAR

Amil-amil yang masuk kepada mubtada dan khabar itu ada tiga macam:1. Kaana dan yang semisal Kaana,2. Innna dan yang semisal Inna3. Dzhanna (dzhanantu) dan yang semisal Dzhanna4. Kaana dan saudara-saudaranya

Kaana dan saudara-saudaranya itu me-rafa’-kan isim (mubtada) dan menashabkan khabar.

kaana dan suadara-saudaranya adalah :كَانَ (ada,terjadi), أَمْسَى(memasuki waktu sore), أَصْبَحَ (memasuki waktu pagi), أَضْحَى(memasuki waktu dhuha), ظَلَّ (pada waktu siang), بَاتَ (pada waktu malam), صَارَ(menjadi), لَيْسَ (tidak), مَا زَالَ (senantiasa), مَا اِنْفَكَّ (senantiasa), مَا فَتِئَ (senantiasa), مَا بَرِحَ(senantiasa), مَا دَامَ (senantiasa)

Termasuk juga tashrif (perubahan kata) dari kata-kata di atas, seperti :َ كَانَ, وَيَكُونُ, وَكُنْ, وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ(telah terjadi, sedang terjadi, jadilah! – Telah memasuki waktu pagi, sedang memasuki waktu shubuh, masukilah waktu shubuh!) Contohnya : “كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا, وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا” (Zaid telah berdiri, ‘Amr tidak pergi) dan contoh lain yang serupa.

Inna dan saudara-saudaranya itu me-nashab-kan mubtada dan me-rafa’-kan khabar

Inna dan saudara-saudaranya adalah :إِنَّ (sesungguhnya)، أَنَّ (sesungguhnya)، لَكِنَّ (akan tetapi)، كَأَنَّ (seakan-akan)، لَيْتَ (andai)، لَعَلَّ(agar, supaya) contohnya : إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ (sesungguhnya Zaid berdiri, Andai ‘Amr pergi) dan contoh lain yang serupa.

Makna إِنَّ dan أَنَّ adalah untuk taukid (penekanan), لَكِنَّ untuk istidraak (mempertentangkan), كَأَنَّ untuk tasybih (penyerupaan), لَيْتَ untuk tamanniy (pengandaian), لَعَلَّ untuk tarajiy (pengharapan kebaikan) dan tawaqqu’ (ketakutan dari nasib buruk).

Zhanantu (zhanna) dan saudara-saudaranya itu me-nashab-kan mubtada dan khabar karena keduanya itu (mubtada dan khabar) adalah maf’ul bagi dzhanna dan saudara-saudaranya.

Zhanantu dan saudara-saudaranya itu :ظَنَنْتُ (saya telah menyangka)، وَحَسِبْتُ (saya telah mengira)، وَخِلْتُ (saya telah membayangkan)، وَزَعَمْتُ(saya telah menduga) وَرَأَيْتُ (saya telah melihat)، وَعَلِمْتُ (saya telah mengetahui)، وَوَجَدْتُ (saya telah mendapatkan)، وَاتَّخَذْتُ (saya telah menjadikan)،وَجَعَلْتُ (saya telah menjadikan)، وَسَمِعْتُ (saya telah mendengar)؛Contohnya: ظَنَنْتُ زَيْدًا مُنْطَلِقًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصًا (Aku telah menyangka Zaid pergi, Aku telah melihat ‘Amr pergi) dan contoh lain yang menyerupainya.

NA’AT

Na’at (sifat) itu mengikuti yang disifati pada keadaan rafa’, nashab, khafad, ma’rifat, dan nakirah nya. Contohnya: قَامَ زَيْدٌ اَلْعَاقِلُ, وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْعَاقِلَ, وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ اَلْعَاقِلِ. (Zaid yang berakal telah berdiri, aku melihat zaid yang berakal, aku berjalan bersama zaid yang berakal)

Ma’rifat (kata khusus) itu ada lima:1. Isim Dhamir (kata ganti), contohnya : أَنَا (saya) dan أَنْتَ (kamu)2. Isim Alam (nama), contohnya: (Zaid)زَيْدٍ(mekkah) dan مَكَّةَ3. Isim Mubham (kata tunjuk), contohnya : (ini, mudzakkar) هَذَا, (ini, muanats) هَذِهِ,(ini, banyak) هَؤُلَاءِ4. Isim yang terdapat alif lam (al), contohnya: (laki-laki) اَلرَّجُلُ dan(anak muda/pembantu) الْغُلَامُ5. isim yang di-idhafahkan kepada salah satu dari keempat isim ma’rifat ini (isim Dhami, isim alam. Isim mubham, dan isim yang terdapat alif lam)

Nakirah (kata umum) adalah setiap isim yang tersebar (beraneka ragam) pada jenisnya ,tidak tertentu pada sesuatupun. Ringkasnya, nakirah adalah setiap isim yang dapat menerima alif lam, contohnya: (laki-laki) اَلرَّجُلُ dan(anak muda) الْغُلَامُ

ATAF

Huruf ‘athaf ada sepuluh, yaitu :وَ (dan)، فَ (maka), ثُمَّ (kemudian), أَوْ (atau), أَمْ (ataukah), إِمَّا (adakalanya), بَلْ (bahkan) , لَا(tidak), لَكِنْ(akan tetapi), حَتَّى (Sehingga) pada sebagian tempat.

Jika kamu ataf-kan dalam keadaan rafa’ maka kamu rafa’a-kan, dalam keadan nashab maka kamu nashab-kan, dalam keadaan khafad maka kamu khafadh-kan, dalam keadaan jazm maka kamu jazm-kan.

Contohnya :“قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو, وَرَأَيْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا, وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَعَمْرٍو, وَزَيْدٌ لَمْ يَقُمْ وَلَمْ يَقْعُدْ(Zaid dan ‘Amr telah berdiri, Aku melihat Zaid dan ‘Amr, Aku berjalan bersama Zaid dan ‘Amr, Zaid sedang tidak berdiri, tidak pula duduk).

TAUKID

Taukid itu mengikuti yang ditaukidi (diperkuat) dalam keadaan rafa’-nya, nashab-nya, khafadh-nya, dan ma’rifah-Nakirah-nya.

Taukid itu telah tertentu lafadzh-lafazhnya, yaitu :اَلنَّفْسُ, وَالْعَيْنُ, وَكُلُّ, وَأَجْمَعُ (diri, diri, setiap, seluruh).

Dan yang mengikuti ajma’u, yaitu: أَكْتَعُ, وَأَبْتَعُ, وَأَبْصَعُ (semuanya bermakna seluruh) Contohnya :قَامَ زَيْدٌ نَفْسُهُ, وَرَأَيْتُ اَلْقَوْمَ كُلَّهُمْ, وَمَرَرْتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِينَ.(Zaid benar-benar telah berdiri, Aku benar-benar melihat semua orang, Aku benar-benar berjalan dengan semua orang).

BADAL

Apabila di-badal-kan (diganti) isim dengan isim atau fi’il dengan fi’il maka badal (kata ganti) nya mengikuti kata yang diganti pada seluruh i’rabnya.

Badal itu ada empat :1. بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْء Badal Syai’ min Syai’2. بَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ Badal Ba’dh min Kull3. بَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ Badal Isytimal4. وَبَدَلُ اَلْغَلَطِ Badal Ghalath.

Contohnya:“قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ, وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ, وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ, وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ(Zaid, saudaramu, telah berdiri – Aku makan roti sepertiganya – Ilmu Zaid bermanfaat untuk ku – Aku melihat Zaid, (maaf) maksudnya kuda)Sebetulnya yang ingin kau ucapkan adalah “Aku melihat kuda”, akan tetapi kamu salah ucap dan kamu ganti dengan “Aku melihat Zaid”.

ISIM-ISIM YANG DINASABKAN

Isim-isim yang dinashabkan itu ada lima belas:

1. Maf’ul bih
2. Mashdar
3. Dzharaf zaman
4. Dzharaf makan
5. Hal
6. Tamyiz
7. Mustatsna
8. Isim Laa
9. Munada
10. Maf’ul min ajlih
11. Maf’ul ma’ah
12. Khabar kaana
13. Isim inna
14. khabar dari isim yang semisal kaana dan isim dari isim yang semisal inna
15. Pengikut dari yang di-nashab-kan, yaitu ada empat : na’at, ‘athaf, taukid, dan badal.

MAF’UL BIH (OBYEK)

Maf’ul bih termasuk isim yang di-nashab-kan yang dikenakan padanya suatu perbuatan. Contohnya : ضَرَبْتُ زَيْدًا, وَرَكِبْتُ اَلْفَرَسَ (Aku telah memukul Zaid, Aku telah menunggangi kuda).

Maf’ul bih itu ada dua jenis: maf’ul bih dzhahir dan maf’ul bih dhamir.

Maf’ul bih dzhahir telah dijelaskan sebelumnya (pada contoh di atas), sedangkan maf’ul bih dhamir itu terbagi menjadi dua: Muttashil (bersambung), Munfashil (terpisah).

Maf’ul bih dhamir muttashil ada dua belas, yaitu :

ضَرَبَنِي, وَضَرَبَنَا, وَضَرَبَكَ, وَضَرَبَكِ, وَضَرَبَكُمَا, وَضَرَبَكُمْ, وَضَرَبَكُنَّ, وَضَرَبَهُ, وَضَرَبَهَا, وَضَرَبَهُمَا, وَضَرَبَهُمْ, وَضَرَبَهُنَّ

Dia (lk) telah memukul aku, Dia (lk) telah memukul kami, Dia (lk) telah memukul kamu (lk), Dia (lk) telah memukul kamu (pr), Dia (lk) telah memukul kalian berdua, Dia (lk) telah memukul kalian (lk), Dia (lk) telah memukul kalian (pr), Dia (lk) telah memukulnya (lk), Dia (lk) telah memukulnya (pr), Dia (lk) telah memukul mereka berdua, Dia (lk) telah memukul mereka (lk), Dia (lk) telah memukul mereka (pr).

Maf’ul bih dhamir munfashil ada dua belas, yaitu:

إِيَّايَ, وَإِيَّانَا, وَإِيَّاكَ, وَإِيَّاكِ, وَإِيَّاكُمَا, وَإِيَّاكُمْ, وَإِيَّاكُنَّ, وَإِيَّاهُ, وَإِيَّاهَا, وَإِيَّاهُمَا, وَإِيَّاهُمْ, وَإِيَّاهُنَّ.

MASDAR

Mashdar adalah isim yang di-nashab-kan yang menempati tempat ketiga dalam tashrif fi’il. Contohnya : ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا (telah memukul – sedang memukul – pukulan).

MAF’UL MUTLAQ

Maf’ul Muthlaq/Mashdar terbagi dua : Lafdzhy, Ma’nawy

Mashdar Lafdzhy: Jika lafazdh mashdarnya sama dengan lafadzh fi’ilnya maka itu termasuk mashdar lafdzhy contohnya : قَتَلْتُهُ قَتْلًا (aku benar-benar membunuhnya).

Mashdar Ma’nawy: Jika yang sama maknanya saja tetapi lafadznya tidak sama, maka itu adalah mashdar ma’nawy. Contohnya : جَلَسْتُ قُعُودًا, ، وقمت وُقُوفًا (aku benar-benar duduk, aku benar-benar berdiri).

ZHARAF ZAMAN (KETERANGAN WAKTU) DAN ZHARAF MAKAN (KETERANGAN TEMPAT)

Zharaf zaman itu adalah isim zaman yang dinashabkan dengan mengira-ngira maknanya fi (pada, di). Contoh zharaf zaman :

اَلْيَوْمِ, اللَّيْلَةِ, غَدْوَةً, بُكْرَةً, سَحَرًا, غَدًا, عَتَمَةً, صَبَاحًا, مَسَاءً, أَبَدًا, أَمَدًا, حِينًا

(di pagi hari, di malam hari, di pagi hari, di pagi hari, di waktu sahur, besok, di waktu malam, di waktu shubuh, di sore hari, selama-lamanya, besok-besok, suatu ketika)

Zharaf makan adalah isim makan (keterangan tempat) yang dinashabkan dengan mengira-ngira maknanya fi (pada, di). Contohnya:

أَمَامَ, خَلْفَ, قُدَّامَ, وَرَاءَ, فَوْقَ, تَحْتَ, عِنْدَ, مَعَ, إِزَاءَ, حِذَاءَ, تِلْقَاءَ, ثَمَّ, هُنَا

(di depan, di belakang, di depan, di belakang, di atas, di bawah, di sisi, bersama, di depan, di depan, di depan, di sana , di sini).

HAL

Haal termasuk isim yang dinashabkan yang menjelaskan tata cara atau keadaan yang sebelumnya samar.

Contohnya :

جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا” وَ”رَكِبْتُ اَلْفَرَسَ مُسْرَجًا” وَ”لَقِيتُ عَبْدَ اَللَّهِ رَاكِبًا”

(Zaid telah datang dengan berkendaraan, aku menunggangi kuda yang berpelana, Aku menjumpai ‘Abdullah sedang berkendaraan)

Haal itu harus nakirah dan haal itu hanya terjadi setelah kalimat nya sempurna dan shahibul haal itu pasti ma’rifat

TAMYIZ

Tamyiz termasuk isim yang dinashabkan yang menjelaskan zat yang sebelumnya

Contohnya :

“تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرَقًا”, وَ”تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا” وَ”طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا” وَ”اِشْتَرَيْتُ عِشْرِينَ غُلَامًا” وَ”مَلَكْتُ تِسْعِينَ نَعْجَةً” وَ”زَيْدٌ أَكْرَمُ مِنْكَ أَبًا” وَ”أَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا”

(keringat zaid mengalir, lemak Bakr berlapis-lapis, badan Muhammad wangi, aku membeli 20 budak, aku memiliki 90 ekor kambing, Bapaknya Zaid lebih mulia dari mu, dan wajah Zaid lebih tampan darimu)

Tamyiz itu harus nakirah dan tamyiz hanya terjadi setelah kalimat nya sempurna

ISTISNA (PENGECUALIAN)

Huruf istitsna itu ada delapan, yaitu :

إِلَّا, غَيْرُ, سِوَى, سُوَى, سَوَاءٌ, خَلَا, عَدَا, حَاشَا

(semuanya bermakna kecuali / selain)

Maka mustatsna (kalimat yang di istitsnakan) dengan huruf illaa dinashabkan jika kalamnya taam mujab contohnya:

قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا” وَ”خَرَجَ اَلنَّاسُ إِلَّا عَمْرًا

(Semua orang selain Zaid telah berdiri, Semua orang selain ‘Amr telah keluar)

Jika kalamnya manfiy taam, maka boleh menjadikannya badal atau menashabkannya

karena istitsna contohnya :

مَا قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدٌ وَ مَا قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا

(keduanya bermakna sama, semua orang selain Zaid tidak berdiri)

Jika kalamnya naaqish (kurang), maka i’rabnya sesuai dengan amil-amilnya,. Contohnya:

“مَا قَامَ إِلَّا زَيْدٌ” وَ”مَا ضَرَبْتُ إِلَّا زَيْدًا” وَ”مَا مَرَرْتُ إِلَّا بِزَيْدٍ

(Tidak berdiri kecuali Zaid, Tidaklah aku pukul kecuali Zaid, tidak lah aku berjalan kecuali bersama zaid )

Mustatsna dengan kata siwaa, suwaa, sawaa-u dan ghairu maka dijarkan (selamanya) tanpa kecuali.

Mustatsna dengan kata khalaa, ‘adaa, dan haasyaa maka boleh kita menashabkannya atau menjarkannya. Contohnya :

قَامَ اَلْقَوْمُ خَلَا زَيْدًا وَ قَامَ اَلْقَوْمُ خَلَا زَيْدٍ
قَامَ اَلْقَوْمُ عَدَاعَمْرًا وَ قَامَ اَلْقَوْمُ عَدَاعَمْرٍو
قَامَ اَلْقَوْمُ حَاشَا بَكْرًا و قَامَ اَلْقَوْمُ حَاشَا َبَكْرٍ

(Semua orang berdiri kecuali Zaid, ‘Amr, dan Bakr)

BAB LA (NAFI)

Ketahuilah! Bahwa apabila la (la Nafiah, La penafian) bertemu langsung dengan isim nakirah maka la menashabkan isim nakirah dengan tanpa tanwin dan la tidak berulang-ulang. Contohnya:

لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ

(tidak ada seorang pria di dalam rumah)

Jika laa tidak bertemu langsung dengan nakirah maka laa wajib diulang-ulang.

Contohnya :

لَا فِي اَلدَّارِ رَجُلٌ وَلَا اِمْرَأَةٌ

(Tidak ada seorang pria di dalam rumah, tidak pula wanita)

Jika laa berulang-ulang (juga bertemu langsung dengan nakirah), maka boleh mengamalkannya (menjadikan laa sebagai amil yang menashabkan) atau menyia-nyiakannya. Maka jika kamu suka, kamu katakan :

لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةَ

(Tidak ada seorang pria di dalam rumah, tidak pula wanita)

Dan jika kamu suka, kamu katakan:

لَا رَجُلٌ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةٌ”.

(Tidak ada seorang pria di dalam rumah, tidak pula wanita)

MUNADA (KATA YANG DIPANGGIL)

Munada itu ada lima, yaitu :

1. المفرد اَلْعَلَمُ (nama-nama)
2. النَّكِرَةُ اَلْمَقْصُودَةُ (nakirah yang termaksud)
3. النَّكِرَةُ غَيْرُ اَلْمَقْصُودَةِ (nakirah yang tidak termaksud)
4. الْمُضَافُ (Mudhaf)
5. الشَّبِيهُ بِالْمُضَافِ (yang menyerupai mudhaf)

Adapun mufrad ‘alam dan nakirah maqsudah maka ia dimabnikan atas dhammah dengan tanpa tanwin contohnya:

يَا زَيْدُ وَيَا رَجُل
(wahai Zaid… , Wahai seorang pria…)

Dan tiga munada sisanya itu tidak lain dinashabkan.

بَابُ اَلْمَفْعُولِ مِنْ أَجْلِهِ

MAF’UL MIN AJLIH

Maf’ul min ajlih termasuk isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya suatu perbuatan. Contohnya

قَامَ زَيْدٌ إِجْلَالًا لِعَمْرٍو وَقَصَدْتُكَ اِبْتِغَاءَ مَعْرُوفِكَ.

(Zaid telah berdiri untuk memuliakan ‘Amr, Aku mendekatimu karena mengharapkan kebaikanmu)

MAF’UL MA’AH

Maf’ul ma’ah termasuk isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan penyertaan seseorang atau sesuatu dalam suatu perbuatan. Contohnya :

جَاءَ اَلْأَمِيرُ وَالْجَيْشَ وَاِسْتَوَى اَلْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ

(Seorang pemimpin telah datang bersama tentaranya, Air mengalir bersama kayu)

Adapun pembahasan tentang “khabar kaana” dan “saudara-saudara kaana” dan “isim inna” dan “saudara-saudara inna” maka sungguh telah diberikan penjelasannya pada bab isim-isim yang di-rafa’a-kan begitu juga dengan pembahasan kata pengikut yang di-nashab-kan (na’at, ‘athaf, taukid, badal) telah dijelaskan disana.

ISIM-ISIM KHAFAD (JAR)

Isim-isim yang dikhafadhkan itu ada tiga bagian :

1. Dikhafadhkan dengan huruf khafadh
2. Dikhafadhkan dengan idhafah
3. Dikhafadhkan karena mengikuti yang sebelumnya

Adapun yang dijarkan dengan huruf khafadh yaitu apa-apa yang dijarkan dengan huruf:

مِنْ(dari), إِلَى(ke), عَنْ (dari), عَلَى(di atas),فِي (di), رُبَّ (jarang), بِ (dengan), كَ (seperti), لِ (untuk)

dan dengan huruf sumpah yaitu:

اَلْوَاوُ, الْبَاءُ, التَّاءُِ

(ketiganya bermakna sumpah: demi)

dan dengan:

مُذْ, (sejak) وَمُنْذُ (sejak)

Adapun yang dijarkan dengan idhafah maka contohnya: غُلَامُ زَيْدٍ (pembantu Zaid) dan yang dijarkan dengan idhafah itu ada dua, pertama yang di-taqdir-kan dengan lam dan kedua yang di-taqdir-kan dengan min.

Maka yang di-taqdir-kan dengan lam (bagi, kepunyaan) contohnya: غُلَامُ زَيْدٍ (pembantu (milik) Zaid)

Dan yang di-taqdir-kan dengan min (dari) contohnya: ثَوْبُ خَزٍّ (Baju (dari) sutera), بَابُ سَاجٍ (pintu (dari) kayu jati), خَاتَمُ حَدِيدٍ (Cincin (dari) besi).

TAMAT TERJEMAH KITAB AJURUMIYAH

 

Bahasa Arab, Belajar Bahasa Arab, Gramatika, Pemula

Post navigation

Previous Post: Belajar Bahasa Arab Modern

More Related Articles

4 tewas dalam penembakan di festival gilroy California 5. Empat Orang Tewas dalam Festival Gilroy California Arab Advanced
Al-Waleed Bin Talal launches news channel to compete with Al-Jazeera and Al Arabiya Al-Waleed Bin Talal launches news channel to compete with Al-Jazeera and Al Arabiya Arabic English Indonesian
34. Cara Menyatakan Setuju dalam Bahasa Arab 34. Cara Menyatakan Setuju dalam Bahasa Arab Bahasa Arab

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Gramatika Bahasa Arab: Ilmu Nahwu
  • Belajar Bahasa Arab Modern
  • Status Hadits Yang Diucapkan Bilal Jumat
  • Hikmah Penundaan Siksa Dunia bagi Pendosa
  • Maksud Hadits Tidak Paham Isi Al-Quran Orang yang Mengkhatamkannya Kurang dari 3 Hari

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Hukum Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad Rasulullah
  • Pengajian 14 Januari 2026: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Tanya Jawab Agama
  • Sahih Bukhari Kitab Kafalah Hadits No. 2290 dan 2291
  • 21 Hadits Tentang Shalat Witir dalam Kitab Bulughul Maram
  • Pengajian 11 Januari 2026: Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna', Konsultasi Islam

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
  • Dalil Haramnya Mengaku Dzuriyah Nabi Tanpa Bukti Otentik
  • KH Hasyim Asy’ari Tidak Punya Guru dari Kaum Habib Ba’alawi
  • Daftar Kitab Nasab Abad 5 – 10 H Yang Mencatat Dzuriyah Nabi Muhammad
  • Summary of Book Ahlussunnah Wal Jamaah: Islam Wasathiyah, Tasamuh, Cinta Damai

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme