Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form
Tangga Menuju Puncak Keilmuan Santri Kyai

Tangga Menunggu Puncak Keilmuan di Pesantren

Posted on January 19, 2026January 19, 2026 By A. Fatih Syuhud

Tangga Menunggu Puncak Keilmuan di Pesantren

Di dunia akademis, seorang dosen bisa jadi profesor selain harus Doktor juga rajin menulis di jurnal internasional, dll.
Sementara, di dunia pesantren, status keulamaan ditentukan oleh kharisma pribadi. Dan ini terkadang karena faktor darah biru (keturunan kyai). Bukan keilmuan. Jangan pernah berasumsi ulama level nasional berarti ilmunya sekelas profesor. Belum tentu.
Kalau gelar Profesor bisa disebut sebagai makam tertinggi dari keilmuan seseorang, maka dunia pesantren tidak memiliki sistem yang terstruktur untuk menaiki puncak keilmuan tersebut.

Tidak sedikit dari ulama pesantren yang berhenti belajar dan membaca setelah mendapat panggilan “kyai” dari masyarakat.
Sebuah kritik internal.

Syarat Jadi Profesor di Perguruan Tinggi

Untuk menjadi profesor di Indonesia, syarat utamanya adalah lulusan S3 (Doktor), memegang jabatan akademik lektor kepala, mengumpulkan angka kredit (KUM) yang tinggi (minimal 850), minimal mengabdi 10 tahun sebagai dosen, serta memiliki publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi (Scopus/WoS) dengan kriteria tertentu, selain harus aktif dalam pengabdian masyarakat dan memenuhi syarat khusus seperti karya seni atau paten, sesuai aturan terbaru {2, 3, 4, 6, 12}.

Syarat Umum

  1. Ijazah S3/Doktor: Wajib memiliki kualifikasi akademik tertinggi pada jenjang doktoral di bidangnya {2, 6, 7}.
  2. Jabatan Akademik: Harus sudah berada di jabatan fungsional Lektor Kepala (LK).
  3. Pengalaman: Minimal 10 tahun mengabdi sebagai dosen, dengan jeda waktu tertentu setelah lulus S3 sebelum bisa mengajukan {2, 5, 6}.
  4. Angka Kredit (KUM): Mengumpulkan angka kredit kumulatif (KUM) minimal 850 (atau 1050, tergantung aturan)

Syarat Khusus: Publikasi di Jurnal Terakreditasi

  1. Jurnal Internasional Bereputasi: Memiliki minimal satu karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus (SJR > 0.1) atau Web of Science (JIF > 0.05) {2, 3, 4}.
  2. Karya Seni/Paten: Jika tidak memenuhi syarat jurnal, dapat diganti dengan karya seni yang diakui internasional atau paten/penemuan yang dihargai.
  3. Pengabdian Masyarakat: Terlibat aktif dalam kegiatan pengabdian, seminar, pelatihan, atau kerja sama {2}.
  4. Penilaian Khusus: Lolos proses penilaian khusus dari Kementerian Pendidikan, Ristek, atau pihak berwenang, termasuk review atas karya ilmiahnya

Peran PBNU 

Saya kira PBNU dapat menginisiasi peningkatan status keilmuan para ulama di kalangan internal NU struktural sebagaimana sistematika untuk mendapatkan status Profesor di kalangan akademisi.

Sehingga, kelak hanya ulama dengan posisi keilmuan tertentu yang dapat menduduki jabatan puncak di PBNU seperti AHWA, KATIB, RAIS AAM (baca: am), dll. Begitu juga para ulama di struktural syuriah di bawahnya seperti level PWNU, PCNU, dst.
Dengan demikian, maka istilah “ulama besar PBNU” betul-betul karena keilmuannya yang “profesor”, bukan karena usia atau kharisma pribadi atau kebesaran ponpes yang diasuhnya. Apalagi hanya berbasis relasi dan koneksi.

Nahdlatul Ulama bermakna Kebangkitan Para Ilmuwan Agama. Sudah sepantasnya para ulama yang jadi pengurus di dalamnya memenuhi syarat untuk disebut sebagai ulama sesuai standar internasional. Setidaknya standar Timur Tengah (Mesir, Suriah dan Arab Saudi).

Umum

Post navigation

Previous Post: Gramatika Bahasa Arab: Ilmu Sharaf
Next Post: Belajar Bahasa Arab Modern

More Related Articles

Mental Kuli Umum
Belajar dari Kisah Cinta Pangeran Charles dan Camilla Belajar dari Kisah Cinta Pangeran Charles dan Camilla Umum
Logika Orang Melayu Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Kalimat Verbal Masa Sekarang dalam Amiyah Arab Saudi
  • Angka Amiyah Arab Saudi
  • Kalimat Nominal Amiyah Tanya dan Negatif
  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Shalat Jamak Qashar karena Pekerjaan
  • Membayar Zakat dengan Membebaskan Hutang Peminjam
  • Masa Keemasan Islam Abad ke-8 sampai ke-13
  • Tetangga Meminta Pohon Dipotong karena Takut Merusak Tembok
  • Dua Istilah Haid: Qaul Sahb dan Qaul Laqt/Talfiq

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Habib Hina Muslim Pribumi sebagai Pesek Tembem Celengan Semar
  • Pangeran Diponegoro Diklaim Keturunan Habib Baalwi
  • Walisongo Keturunan Habaib: Alidin Asegaf Menolak, Riziq Syihab Memohon
  • Why European Used to Smell Badly
  • Mengapa Baalwi Ingin Menandingi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme