Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form

Memaafkan dan Tidak Dendam Tanda Pribadi Perkasa

Posted on February 4, 2024March 5, 2024 By A. Fatih Syuhud

Kisah nyata kedua tokoh panutan kita di bawah ini mengajarkan prinsip esensi akhlak mulia: bahwa

a) Tidak dendam dan bahkan memaafkan pada orang yang pernah menyakiti kita itu tidak mudah tapi harus dilakukan. Karena di atas urusan pribadi, ada kemaslahatan umum yang harus didahulukan.

b) Fungsi ulama itu menjadi penyejuk, bukan pembakar atau provokator.

c) Menjadi ulama atau ahli ilmu agama itu mudah. Asal rajin belajar sampai waktu lama (sampai s2 atau s3), maka tujuan akan tercapai. ulama yg sekedar berilmu tinggi, tanpa akhlak, itu ibarat pohon tanpa buah dan daun. Tiada manfaat pada diri dan lingkungan kecuali aura negatif yang membahayakan.

d) Dan lebih mudah lagi menjadi manusia pemarah, pemaki, pendendam, pendengki, penyebar hoax, dan pengadu domba. Untuk memiliki karakter ini kita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi atau ngaji lama di pesantren. Karena dalam level tertentu karakter buruk ini sudah ada dalam diri kita secara alami.

e) Tetapi menjadi ulama yang berakhlak, sebagai buah dari ilmu yang tinggi, itu tidak mudah. Dan karena itulah mengapa kita hormati dan teladani figur mulia seperti Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al-Jufri ini. (– A. Fatih Syuhud)

Berikut penuturan Habib Ali Al Jufri:

Cara Dakwah Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al-Jufri:

Aku pernah berada di kota Aden, berada dalam satu majlis dengan seorang bekas penguasa / pemimpin yang sangat dzolim, ketika berkuasa dia melakukan banyak kemungkaran dgn membantai atau membunuh banyak ulama² besar Hadramaut, diantaranya, salah satu yg menjadi korbannya adalh guru mulia kami assyahid Al Habib al Imam Muhammad bin Salim Bin Hafidz, ayahanda dari guru kami Habib Umar Bin Hafidz.

Takdir telah membawaku untuk bertemu dengannya dan Ketika menatapnya (setelah aku diberitahu siapa dia) timbul perasaan tidak suka / tidak nyaman bahkan aku tidak mau berbicara dengannya, meskipun sekedar berdakwah sekalipun,…..

Aku tahu sikapku ini keliru dan salah, karena memanggil orang ke jalan Allah harus diutamakan, tak peduli siapa mereka atau apa yang pernah mereka lakukan.

Dan tiba tiba saja, orang dzolim itu menghampiriku dan berkata, “aku ingin bertobat! Apa yang harus kulakukan?”.

Aku berusaha keras untuk menguasai diriku, agar bisa menjawab permintaannya dengan baik, aku berusaha tersenyum supaya ia tidak pergi menjauh dari kebenaran yang ia inginkan,

Segera setelah keluar dari majlis aku tetap merasa sangat terganggu dan tidak nyaman, maka aku menelepon guruku Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz serta menceritakan dengan siapa aku telah bertemu, dan beliau hanya bertanya, “Apa maunya?”,

Aku katakan keinginan orang itu untuk bertobat dan minta maaf, tapi aku tak mampu menuntunnya dgn baik karena hatiku sangat tak menyukai dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu,…..

Habib Umar kemudian berkata, “Ali, penuhilah haq Allah atas mu, yaitu menuntun ia kepada Allah, tunjukkan kasih sayang dan perhatian atasnya dari dasar hatimu yang paling dalam Dan untuk perasaanmu yg tidak suka berkumpul bersamanya atau ketidaknyamananmu itu alihkan kepada kebencian terhadap ‘perbuatannya’, bukan kepada individu atau orangnya,

Rasulullah ﷺ tetap menerima keislaman Wahsyi (org suruhan Hindun istri abu Sofyan) yang telah membunuh paman tercinta nabi, Sayyidina Hamzah (dgn cara menombaknya dari jauh kemudian memutilasinya), Nabi tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi

Meski beliau mengalami kesulitan menatap wahsyi dan berkata jangan biarkan aku melihatnya lagi (karena akan membuat beliau ﷺ teringat lagi keadaan paman beliau kala syahid)”..

Kata kata Habib Umar ini sungguh tak ternilai dan sangat amat berharga, karena beliau sedang berbicara tentang Manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup Habib Umar (membunuh Ayah beliau) dan memisahkannya dgn keluarga beliau!!

Tetapi Habib Umar tetap teguh mengikuti Sunnah Baginda Rasulullah.

Sumber: akun twitter @BakarSmith

Umum Tags:Refleksi

Post navigation

Previous Post: Religion and Nationalism
Next Post: Civil Servant (PNS) Booming & Collective Corruption

More Related Articles

Bobot Ucapan Ulama tergantung Referensinya Umum
Daftar Kitab Biografi Rasulullah (Sirah Nabawi) Daftar Kitab Biografi Rasulullah (Sirah Nabawi) Arab Advanced
Muslim dan Amal yang Paling Disukai Allah [hadits] Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Kalimat Verbal Masa Sekarang dalam Amiyah Arab Saudi
  • Angka Amiyah Arab Saudi
  • Kalimat Nominal Amiyah Tanya dan Negatif
  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Shalat Jamak Qashar karena Pekerjaan
  • Membayar Zakat dengan Membebaskan Hutang Peminjam
  • Masa Keemasan Islam Abad ke-8 sampai ke-13
  • Tetangga Meminta Pohon Dipotong karena Takut Merusak Tembok
  • Dua Istilah Haid: Qaul Sahb dan Qaul Laqt/Talfiq

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Bubarnya Rabithah Memutus Rantai Manipulasi
  • Makam Palsu Baalwi: Rencana Menguasai Indonesia
  • Walisongo Bukan Baalawi (Habib)
  • Karya KH Imaduddin Ustman vs Rabitoh Alawiyah
  • Kebenaran Sosial vs Kebenaran Ilmiah: Sisi Lain Polemik Nasab Baalwli

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme