Memaafkan dan Tidak Dendam Tanda Pribadi Perkasa

Kisah nyata kedua tokoh panutan kita di bawah ini mengajarkan prinsip esensi akhlak mulia: bahwa

a) Tidak dendam dan bahkan memaafkan pada orang yang pernah menyakiti kita itu tidak mudah tapi harus dilakukan. Karena di atas urusan pribadi, ada kemaslahatan umum yang harus didahulukan.

b) Fungsi ulama itu menjadi penyejuk, bukan pembakar atau provokator.

c) Menjadi ulama atau ahli ilmu agama itu mudah. Asal rajin belajar sampai waktu lama (sampai s2 atau s3), maka tujuan akan tercapai. ulama yg sekedar berilmu tinggi, tanpa akhlak, itu ibarat pohon tanpa buah dan daun. Tiada manfaat pada diri dan lingkungan kecuali aura negatif yang membahayakan.

d) Dan lebih mudah lagi menjadi manusia pemarah, pemaki, pendendam, pendengki, penyebar hoax, dan pengadu domba. Untuk memiliki karakter ini kita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi atau ngaji lama di pesantren. Karena dalam level tertentu karakter buruk ini sudah ada dalam diri kita secara alami.

e) Tetapi menjadi ulama yang berakhlak, sebagai buah dari ilmu yang tinggi, itu tidak mudah. Dan karena itulah mengapa kita hormati dan teladani figur mulia seperti Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al-Jufri ini. (– A. Fatih Syuhud)

Berikut penuturan Habib Ali Al Jufri:

Cara Dakwah Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al-Jufri:

Aku pernah berada di kota Aden, berada dalam satu majlis dengan seorang bekas penguasa / pemimpin yang sangat dzolim, ketika berkuasa dia melakukan banyak kemungkaran dgn membantai atau membunuh banyak ulama² besar Hadramaut, diantaranya, salah satu yg menjadi korbannya adalh guru mulia kami assyahid Al Habib al Imam Muhammad bin Salim Bin Hafidz, ayahanda dari guru kami Habib Umar Bin Hafidz.

Takdir telah membawaku untuk bertemu dengannya dan Ketika menatapnya (setelah aku diberitahu siapa dia) timbul perasaan tidak suka / tidak nyaman bahkan aku tidak mau berbicara dengannya, meskipun sekedar berdakwah sekalipun,…..

Aku tahu sikapku ini keliru dan salah, karena memanggil orang ke jalan Allah harus diutamakan, tak peduli siapa mereka atau apa yang pernah mereka lakukan.

Dan tiba tiba saja, orang dzolim itu menghampiriku dan berkata, “aku ingin bertobat! Apa yang harus kulakukan?”.

Aku berusaha keras untuk menguasai diriku, agar bisa menjawab permintaannya dengan baik, aku berusaha tersenyum supaya ia tidak pergi menjauh dari kebenaran yang ia inginkan,

Segera setelah keluar dari majlis aku tetap merasa sangat terganggu dan tidak nyaman, maka aku menelepon guruku Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz serta menceritakan dengan siapa aku telah bertemu, dan beliau hanya bertanya, “Apa maunya?”,

Aku katakan keinginan orang itu untuk bertobat dan minta maaf, tapi aku tak mampu menuntunnya dgn baik karena hatiku sangat tak menyukai dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu,…..

Habib Umar kemudian berkata, “Ali, penuhilah haq Allah atas mu, yaitu menuntun ia kepada Allah, tunjukkan kasih sayang dan perhatian atasnya dari dasar hatimu yang paling dalam Dan untuk perasaanmu yg tidak suka berkumpul bersamanya atau ketidaknyamananmu itu alihkan kepada kebencian terhadap ‘perbuatannya’, bukan kepada individu atau orangnya,

Rasulullah ﷺ tetap menerima keislaman Wahsyi (org suruhan Hindun istri abu Sofyan) yang telah membunuh paman tercinta nabi, Sayyidina Hamzah (dgn cara menombaknya dari jauh kemudian memutilasinya), Nabi tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi

Meski beliau mengalami kesulitan menatap wahsyi dan berkata jangan biarkan aku melihatnya lagi (karena akan membuat beliau ﷺ teringat lagi keadaan paman beliau kala syahid)”..

Kata kata Habib Umar ini sungguh tak ternilai dan sangat amat berharga, karena beliau sedang berbicara tentang Manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup Habib Umar (membunuh Ayah beliau) dan memisahkannya dgn keluarga beliau!!

Tetapi Habib Umar tetap teguh mengikuti Sunnah Baginda Rasulullah.

Sumber: akun twitter @BakarSmith