Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form
Membaca sebagai Gaya Hidup

Membaca sebagai Gaya Hidup (1)

Posted on May 28, 2024May 28, 2024 By A. Fatih Syuhud

Membaca sebagai Gaya Hidup

Oleh: A. Fatih Syuhud

Hari Senin memang hari kurang tepat untuk mengunjungi FRRO (Foreign Regional Registration Officer). Tapi berhubung resident permit saya sudah tinggal sekian hari lagi, saya terpaksa datang. Benar. Suasana ramai sekali di kantor imigrasi itu. Persis seperti di lounge ruang tunggu bandara. Saya mengambil posisi duduk di sudut belakang supaya bisa agak bebas “memata-matai” yg baru datang maupun yg sudah duduk menunggu namanya dipanggil.

Duduk di samping saya sebuah keluarga bule, suami istri dan dua anaknya yg masih kecil, antara usia 10 dan 12 tahun. Berbeda dg kalangan bangsa lain termasuk NRI (non-resident of India) yg sibuk ngobrol dan ribut, keluarga bule ini duduk tenang di kursi masing-masing. Anehnya, semua sibuk membaca. Suami tampak sedang membaca “My Life”-nya Bill Clinton, si istri membaca novel karya novelis favorit saya, John Grisham. Sedang kedua anak mereka asik membaca komik Archie. Rencana untuk mengajak mereka ngobrol saya urungkan, takut mengganggu; dan saya pun jadi membuka buku karya Edward W. Said “the End of the Peace Process” yg sudah sebulan lebih saya pinjam dari Qisai tapi belum beres juga bacanya.

Pemandangan orang bule yg lagi asik membaca juga sering kita lihat di mana-mana: di bandara, dalam pesawat, dalam bis, dll.

Membaca (dan menulis) merupakan tradisi masyarakat modern dan civilized. Sebaliknya, berbicara (dan jarang membaca) menjadi ciri tipikal masyarakat yg belum modern dalam arti hakiki. Walaupun secara artifisial (phisical appearance) sudah “modern dan civilized”: berbaju dan berperilaku dg mengikuti trend dan model mutakhir, kacamata ala Britney Spears, Rambut ala Beckham, John Farrell, Brad Pitt, dll.

Seorang rekan pernah bertanya pada saya, “Apa beda antara masyarakat modern (Barat) dan masyarakat agraris?” Saya jawab singkat, “Yg pertama sebagai penggembala, yg kedua sebagai dombanya.”

***

Sebenarnya pertanyaan terpenting adalah mengapa Barat jadi “penggembala” dan kita dg suka rela menjadi “domba gembalaan” di segala bidang? Bukankah kita sama-sama manusia yg memiliki ego dan ambisi untuk menjadi penggembala? Secara historik, jawabannya bisa dikronologikan dari awal abad ke-11 sampai terjadinya revolusi ‘Renaissance’ Prancis dan berlanjut sampai sekarang. Sangat panjang.

Namun, semua itu berakar dari satu hal: pendidikan. Semakin unggul dan meratanya pendidikan suatu bangsa, maka akan semakin independen bangsa itu dari ketergantungan pada bangsa lain. Barat plus Jepang saat ini memimpin dunia. Mereka yg “menggembala” kita di segala bidang: dari pesawat, komputer, game, kosmetik, baju, telpon genggam, sampai merek pembalut wanita dan underwear.

Begitu juga, dalam konteks kompetisi “penggembala” dalam negeri ditentukan oleh mutu pendidikan. Mutu pendidikan di Jawa, misalnya, lebih unggul dari luar Jawa. Konsekuensinya, penggembala kita kebanyakan berasal dari Jawa atau orang luar Jawa yg mengenyam pendidikan di Jawa.

Dalam konteks kompetisi mahasiswa Indonesia di luar negeri, lulusan Amerika dan negara Barat lain lebih banyak mendominasi posisi di pusat maupun daerah–baik sebagai pejabat maupun sebagai intelektual–dibanding, misalnya, lulusan negara-negara berkembang seperti Mesir, Pakistan dan India.

Pertanyaan penting ketiga, mengapa pendidikan yg unggul dapat menciptakan manusia yg berkualitas sebagai penggembala? Banyak faktor. Salah satunya adalah karena pendidikan yg bermutu dapat menciptakan suasana kondusif bagi anak didik untuk selalu banyak membaca (dan menulis); dan menjadikan kebiasaan membaca itu sebagai gaya hidup (life-style) kesehariannya.

Sayangnya, saya tidak melihat hal itu (membaca dan menulis sebagai gaya hidup) sebagai kultur yg inheren dalam diri mahasiswa maupun masyarakat Indonesia di India. Tradisi mahasiswa India yg gigih dan hard-working–sehingga mereka mendominasi dunia–tampaknya tidak menular dan ‘memberkahi’ kita. Yg menular ke kita justru kultur tukang Rikshaw yg pemalas, yg kalau lagi asik merokok atau ngobrol sampai menolak penumpang.

Dg demikian, timbul pertanyaan keempat dan terakhir, apakah mahasiswa Indonesia di India, mampu berkompetisi dg mahasiswa Indonesia dari negara lain atau dg yg di tanah air? Apabila “tradisi tukang rikshaw” masih menjadi kultur kita, maka jawabnya jelas: “No Way!”

Ketidaksukaan membaca (dan menulis), membuat status akademis dan gelar kita dipertanyakan, karena hal itu akan tergambar secara jelas saat kita berbicara. Semua akan tampak salah. Omongan kita jadi terasa hambar. Ada pepatah Inggris yg cukup tepat dalam soal ini, “Three days without reading, talking become flavorless.” Ketika bicara kita terasa hambar di mata orang lain, maka kita pun menjadi manusia yg hambar dan tidak menarik.

Saya tutup refleksi ini dg sebuah kutipan dari buku ‘Now and Then’ (1998) karya Joseph Heller, “Some men are born mediocre, some men achieve mediocrity, and some men have mediocrity thrust upon them.”[]

New Delhi, India, 16 Mei 2005

Umum Tags:Akhlak Mulia, Refleksi

Post navigation

Previous Post: Mental Kuli
Next Post: Membaca Sebagai Gaya Hidup (2)

More Related Articles

Apakah ibid masih dipakai? Umum
Kriteria Ulama Besar di Timur Tengah dan Indonesia Kriteria Ulama Besar di Timur Tengah dan Indonesia Umum
Beda Kebenaran Persepsi dan Kebenaran Faktual Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Status Hadits Yang Diucapkan Bilal Jumat
  • Hikmah Penundaan Siksa Dunia bagi Pendosa
  • Maksud Hadits Tidak Paham Isi Al-Quran yang Mengkhatamkannya Kurang dari 3 Hari
  • A Prayer for My Sons
  • Kriteria Ulama Besar di Timur Tengah dan Indonesia

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Pengajian 14 Januari 2026: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Tanya Jawab Agama
  • Sahih Bukhari Kitab Kafalah Hadits No. 2290 dan 2291
  • 21 Hadits Tentang Shalat Witir dalam Kitab Bulughul Maram
  • Pengajian 11 Januari 2026: Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna', Konsultasi Islam
  • Pengajian 10 Januari 2026: Tafsir Jalalain Surat Hud Ayat 5 sampai 7 plus Konsultasi Agama

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
  • Dalil Haramnya Mengaku Dzuriyah Nabi Tanpa Bukti Otentik
  • KH Hasyim Asy’ari Tidak Punya Guru dari Kaum Habib Ba’alawi
  • Daftar Kitab Nasab Abad 5 – 10 H Yang Mencatat Dzuriyah Nabi Muhammad
  • Summary of Book Ahlussunnah Wal Jamaah: Islam Wasathiyah, Tasamuh, Cinta Damai

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme