Membaca sebagai Gaya Hidup (1)

Membaca sebagai Gaya Hidup

Membaca sebagai Gaya Hidup

Oleh: A. Fatih Syuhud

Hari Senin memang hari kurang tepat untuk mengunjungi FRRO (Foreign Regional Registration Officer). Tapi berhubung resident permit saya sudah tinggal sekian hari lagi, saya terpaksa datang. Benar. Suasana ramai sekali di kantor imigrasi itu. Persis seperti di lounge ruang tunggu bandara. Saya mengambil posisi duduk di sudut belakang supaya bisa agak bebas “memata-matai” yg baru datang maupun yg sudah duduk menunggu namanya dipanggil.

Duduk di samping saya sebuah keluarga bule, suami istri dan dua anaknya yg masih kecil, antara usia 10 dan 12 tahun. Berbeda dg kalangan bangsa lain termasuk NRI (non-resident of India) yg sibuk ngobrol dan ribut, keluarga bule ini duduk tenang di kursi masing-masing. Anehnya, semua sibuk membaca. Suami tampak sedang membaca “My Life”-nya Bill Clinton, si istri membaca novel karya novelis favorit saya, John Grisham. Sedang kedua anak mereka asik membaca komik Archie. Rencana untuk mengajak mereka ngobrol saya urungkan, takut mengganggu; dan saya pun jadi membuka buku karya Edward W. Said “the End of the Peace Process” yg sudah sebulan lebih saya pinjam dari Qisai tapi belum beres juga bacanya.

Pemandangan orang bule yg lagi asik membaca juga sering kita lihat di mana-mana: di bandara, dalam pesawat, dalam bis, dll.

Membaca (dan menulis) merupakan tradisi masyarakat modern dan civilized. Sebaliknya, berbicara (dan jarang membaca) menjadi ciri tipikal masyarakat yg belum modern dalam arti hakiki. Walaupun secara artifisial (phisical appearance) sudah “modern dan civilized”: berbaju dan berperilaku dg mengikuti trend dan model mutakhir, kacamata ala Britney Spears, Rambut ala Beckham, John Farrell, Brad Pitt, dll.

Seorang rekan pernah bertanya pada saya, “Apa beda antara masyarakat modern (Barat) dan masyarakat agraris?” Saya jawab singkat, “Yg pertama sebagai penggembala, yg kedua sebagai dombanya.”

***

Sebenarnya pertanyaan terpenting adalah mengapa Barat jadi “penggembala” dan kita dg suka rela menjadi “domba gembalaan” di segala bidang? Bukankah kita sama-sama manusia yg memiliki ego dan ambisi untuk menjadi penggembala? Secara historik, jawabannya bisa dikronologikan dari awal abad ke-11 sampai terjadinya revolusi ‘Renaissance’ Prancis dan berlanjut sampai sekarang. Sangat panjang.

Namun, semua itu berakar dari satu hal: pendidikan. Semakin unggul dan meratanya pendidikan suatu bangsa, maka akan semakin independen bangsa itu dari ketergantungan pada bangsa lain. Barat plus Jepang saat ini memimpin dunia. Mereka yg “menggembala” kita di segala bidang: dari pesawat, komputer, game, kosmetik, baju, telpon genggam, sampai merek pembalut wanita dan underwear.

Begitu juga, dalam konteks kompetisi “penggembala” dalam negeri ditentukan oleh mutu pendidikan. Mutu pendidikan di Jawa, misalnya, lebih unggul dari luar Jawa. Konsekuensinya, penggembala kita kebanyakan berasal dari Jawa atau orang luar Jawa yg mengenyam pendidikan di Jawa.

Dalam konteks kompetisi mahasiswa Indonesia di luar negeri, lulusan Amerika dan negara Barat lain lebih banyak mendominasi posisi di pusat maupun daerah–baik sebagai pejabat maupun sebagai intelektual–dibanding, misalnya, lulusan negara-negara berkembang seperti Mesir, Pakistan dan India.

Pertanyaan penting ketiga, mengapa pendidikan yg unggul dapat menciptakan manusia yg berkualitas sebagai penggembala? Banyak faktor. Salah satunya adalah karena pendidikan yg bermutu dapat menciptakan suasana kondusif bagi anak didik untuk selalu banyak membaca (dan menulis); dan menjadikan kebiasaan membaca itu sebagai gaya hidup (life-style) kesehariannya.

Sayangnya, saya tidak melihat hal itu (membaca dan menulis sebagai gaya hidup) sebagai kultur yg inheren dalam diri mahasiswa maupun masyarakat Indonesia di India. Tradisi mahasiswa India yg gigih dan hard-working–sehingga mereka mendominasi dunia–tampaknya tidak menular dan ‘memberkahi’ kita. Yg menular ke kita justru kultur tukang Rikshaw yg pemalas, yg kalau lagi asik merokok atau ngobrol sampai menolak penumpang.

Dg demikian, timbul pertanyaan keempat dan terakhir, apakah mahasiswa Indonesia di India, mampu berkompetisi dg mahasiswa Indonesia dari negara lain atau dg yg di tanah air? Apabila “tradisi tukang rikshaw” masih menjadi kultur kita, maka jawabnya jelas: “No Way!”

Ketidaksukaan membaca (dan menulis), membuat status akademis dan gelar kita dipertanyakan, karena hal itu akan tergambar secara jelas saat kita berbicara. Semua akan tampak salah. Omongan kita jadi terasa hambar. Ada pepatah Inggris yg cukup tepat dalam soal ini, “Three days without reading, talking become flavorless.” Ketika bicara kita terasa hambar di mata orang lain, maka kita pun menjadi manusia yg hambar dan tidak menarik.

Saya tutup refleksi ini dg sebuah kutipan dari buku ‘Now and Then’ (1998) karya Joseph Heller, “Some men are born mediocre, some men achieve mediocrity, and some men have mediocrity thrust upon them.”[]

New Delhi, India, 16 Mei 2005

Scroll to top