Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form

Spirit Pluralisme Bangsa Indonesia

Posted on June 22, 2024June 23, 2024 By A. Fatih Syuhud

Spirit Pluralisme Bangsa Kita

Pesta demokrasi baru saja usai. Begitu juga penghitungan suara. Capres Susilo Bambang Yudoyono(SBY) secara resmi telah keluar sebagai pemenang dg cukup mutlak mengalahkan presiden berkuasa, Megawati Sukarnoputri. Kedua figur pemimpin tertinggi bangsa ini telah menunjukkan sikap mereka sebagai negarawan: pihak yg menang tidak terlalu berlebihan menampakkan kemenangannya, di sisi lain pihak yg kalah mengakui secara ksatria kekalahannya. Dalam istilah Thomas Friedmann, kolumnis harian The New York Times, kedua capres kita telah menunjukkan sikap “magnanimous in victory, graceful in defeat”. Suatu sikap yg biasa dimiliki seorang negarawan sejati.

Apa yg membuat SBY menang dan Megawati kalah? Banyak faktor, yg dapat kita lihat dari berbagai analisa para pakar politik dalam negeri. Akan tetapi, dalam konteks kita, mahasiswa/masyarakat Indonesia di India, faktor terpenting adalah karena rakyat menganggap SBY
memiliki spirit dan wawasan pluralisme paling kuat.

Dalam situasi dunia yg dipenuhi konflik antarbangsa, antaragama, antarsuku dan terorisme ini, spirit dan wawasan pluralisme adalah mutlak diperlukan bukan hanya oleh seorang presiden yg menjadi simbol aspirasi rakyat di negara bersistem demokrasi, tetapi juga oleh
semua kalangan; tak terkecuali dalam hal ini adalah institusi PPI India, anggota PPI dan masyarakat India secara umum.

Pluralisme dalam istilah filsafat bermakna “a system that recognizes more than one ultimate principle”. Dalam kamus Webster’s Unabridged Dictionary, pluralisme berarti “a form of society in which a member of minority groups maintain their independent cultural traditions.” Poin utama dari pengertian kata “pluralisme” secara filosofis dan bahasa ini adalah sikap toleran, dan adanya pengakuan atas hak eksistensi kelompok agama atau suku lain yg masuk dalam kategori minoritas. Dengan mengakui keberadaan mereka, tuntutan moral selanjutnya bagi kelompok mayoritas adalah menghormati dan bahkan melindungi minoritas serta memperlakukan mereka sama di depan hukum dan tidak berlaku atau bersikap diskrimininatif dalam kehidupan sosial keseharian.

Seperti ucapan Thomas Friedmann di atas agar kita selalu bersikap “magnanimous” (artinya kira-kira: agung, berbudi luhur, bijaksana, caring, melindungi, dll) ketika kita “menang” dalam kompetisi, maka sikap magnanimous harus juga ditunjukkan ketika kita berada dalam posisi “kuat” terhadap kalangan yg berada dalam posisi “lemah”; seperti sikap kelompok pemeluk agama mayoritas terhadap pemeluk agama minoritas, kelompok suku mayoritas pada suku yg minoritas, dst.

Menurut Jusman Masga, ketua ppi yg sering khotbah di KBRI, ada sebuah Hadits Nabi yg juga mengacu pada sikap magnanimous tsb, yg bunyinya kurang lebih sbb: Ucapkan salam kepada sesama ketika bertemu. Dari yg naik unta (dalam konteks sekarang: yg naik mobil atau
lebih kaya) pada yg berjalan kaki; dari seorang pejabat pada rakyat; dari yg berdiri pada yg duduk.

Spirit magnanimity pluralisme ini konsekuensi logisnya akan mengarah pada spirit toleransi atas segala realitas perbedaan: perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan titik pandang, perbedaan afiliasi politik, bahkan perbedaan hermeneutik dalam melihat agama yg
dianut masing-masing pemeluknya. Siapapun yg memiliki spirit pluralisme ini tentunya tidak akan pernah berpikir untuk bersikap otoriter, arogan, memaksakan kehendaknya sendiri, dan menganggap ide dan opininya sebagai opini yg paling benar dan yg lain selalu salah, dsb.

PPI India sebagai institusi mahasiswa pemegang estafet eksistensi bangsa Indonesia harus memiliki semangat dan spirit magnanimity pluralisme yg tidak diragukan lagi. Dan dalam waktu yg sama, PPI hendaknya selalu mengingatkan pada siapapun yg lupa bahwa Indonesia itu menjadi sebuah negara karena adanya rakyat dari Sabang sampai Merauke dg berbagai macam agama, suku, bahasa dan kultur.

Namun demikian, kesadaran akan realitas ini baru akan berguna kalau kita mengimplementasikannya dalam sikap keseharian kita: dengan menjaga perasaan kelompok suku atau agama lain ketika kita berbicara dan berperilaku, khususnya di depan umum. Apabila sikap toleransi
pluralisme ini tidak dipelihara, bahaya laten perpecahan bangsa kita di masa depan bukanlah sekedar khayalan belaka. Di sisi lain, sikap tidak toleran dari kalangan mayoritas (khususnya mayoritas agama atau suku) hanya akan menunjukkan betapa kerdil dan piciknya kalangan ini.

Pada waktu yg sama, kalangan minoritas (suku maupun agama) hendaknya juga bersikap quid pro quo atau resiprokatif. Bersikap graceful dan tidak selalu bercuriga pada yg mayoritas. Di sini, diperlukan adanya dialog dan keterbukaan guna menghindari kesalahpahaman yg salah satunya bisa dilakukan di milis ini.

Bagi kalangan generasi “tua” yakni masyarakat Indonesia di India, hendaknya juga tidak sungkan-sungkan untuk mengingatkan kami yg muda; sebagaimana kami juga suka mengkritisi sikap generasi tua apabila dianggap perlu. Akhirnya, selamat puasa Ramadhan bagi yg umat Islam di seantero India.

New Delhi, 8 Oktober 2004

Umum Tags:Refleksi

Post navigation

Previous Post: Meneladani Kerja Keras dan Produktifitas Imam Nawawi
Next Post: Cara Mengapresiasi seorang Presiden

More Related Articles

Quote Motivasi Menulis Quote Motivasi Menulis Umum
Sejarah Awal Tarekat dan Nama Aliran Tarekat Umum
Korupsi Para Hakim Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Status Hadits Yang Diucapkan Bilal Jumat
  • Hikmah Penundaan Siksa Dunia bagi Pendosa
  • Maksud Hadits Tidak Paham Isi Al-Quran yang Mengkhatamkannya Kurang dari 3 Hari
  • A Prayer for My Sons
  • Kriteria Ulama Besar di Timur Tengah dan Indonesia

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • 21 Hadits Tentang Shalat Witir dalam Kitab Bulughul Maram
  • Pengajian 11 Januari 2026: Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna', Konsultasi Islam
  • Pengajian 10 Januari 2026: Tafsir Jalalain Surat Hud Ayat 5 sampai 7 plus Konsultasi Agama
  • Hadits tentang Sedekah Istri dari Uang Nafkah Suami
  • Terjemah Kitab Al-Suyuf Al-Mujliyah karya Yasin Al-Kalidar tentang Batalnya Nasab Baalawi

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
  • Dalil Haramnya Mengaku Dzuriyah Nabi Tanpa Bukti Otentik
  • KH Hasyim Asy’ari Tidak Punya Guru dari Kaum Habib Ba’alawi
  • Daftar Kitab Nasab Abad 5 – 10 H Yang Mencatat Dzuriyah Nabi Muhammad
  • Summary of Book Ahlussunnah Wal Jamaah: Islam Wasathiyah, Tasamuh, Cinta Damai

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme