Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form

Trend Baru Artis Indo: Charity dan Baca Buku!

Posted on June 2, 2024 By A. Fatih Syuhud

Trend Baru Artis Indo: Charity dan Baca Buku!

Terus terang saya agak kaget mengikuti program CNN yg menayangkan wawancara dg Christine Hakim yg kata CNN ‘the most renowned actress in Asia’ (bukan hanya di Indonesia). Lebih kaget lagi setelah tahu bahwa Christine Hakim ternyata memiliki dua yayasan sosial. Satu bergerak di bidang pengadaan bantuan susu balita bagi anak2 miskin dan yg kedua membantu para guru SD yg tidak mampu.

Ini cukup mengagetkan karena pertama bangsa Indonesia tidak dikenal sebagai bangsa yg dermawan, alih-alih artisnya yg suka berbaju dan berdandan seronok mengalahkan artis2 Hollywood dan tentu saja dg kumpul kebo dan drugnya. Kebiasaan hidup mewah identik dg tiadanya atau minimnya rasa sensitif terhadap kalangan yg kurang mampu.

Dalam hal ini, kita sangat kalah jauh dg orang2 di negara maju yg kalangan kayanya tak lupa selalu menyisakan sebagian hartanya untuk bantuan sosial atau keilmuan. Lihat yayasan2 terkenal seperti Ford Foundation, Fullbright foundation, dll yg bergerak di bidang pemberi bantuan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi seluruh dunia. Kita bahkan kalah dg India. India, menurut survei di The Times of India, hampir sebagian besar kalangan yg mampu memberikan sumbangan pada kalangan yg tidak mampu, tentu saja menurut kadar kekayaan masing2. Sewaktu saya di Aligarh, saya pribadi pernah mendapat beasiswa RS.100 (seratus rupees) perbulan yg disalurkan via dosen saya. Setelah saya selidiki ternyata uang tsb. bersumber dari seorang pemilik toko yg tidak begitu besar! Nilai 100 rupees sebulan tentu tidak banyak, tapi saya dan mahasiswa lain yg menerima juga merasa sangat apresiatif terhadap itikad baik sang pemilik toko tsb. Di Indonesia, kebiasaan ini masih blom terjadi.

Kedua, saya mendapat berita dari rekan diskusi milis, Farid Gaban, redaktur pelaksana majalah Tempo, bahwa akhir2 ini ada kecenderungan para artis kita suka membaca buku. Bahkan menurut dia, banyak artis yg selalu ingin difoto dalam keadaan sedang membaca buku!

Walaupun hobi baca buku di kalangan artis kita itu kebanyakan karena trend, tapi tentu saja ini merupakan trend yg menarik dan positif, setidaknya dibanding dg trend cimengisasi, mabuk2an, etc. Dan ini jelas trend baru yg perlu dijaga kelestariannya.

Seperti kita tahu, apabila kita bandingkan antara perilaku bangsa Indonesia dg bangsa2 lain dalam soal kebiasaan membaca ini sangat jauh tertinggal. Kita lihat contoh yg mudah, saat2 melakukan perjalanan baik di darat (bus, atau kereta api) atau perjalanan udara (pesawat) selalu kita lihat banyak orang dari bangsa-bangsa lain (eropa, amerika, termasuk India) yg menggunakan waktu luang di perjalanan dg membaca buku; entah itu berupa buku serius atau sekedar novel fiksi. Pemandangan2 semacam itu tidak pernah kita lihat dilakukan oleh orang2 Indonesia.

Apa yg menyebabkan kita malas baca? Jawaban simpelnya: karena kita bangsa yg pemalas! Kumpulan orang2 pemalas dan patetis yg selalu ingin mendapatkan keuntungan (materi) dg tanpa harus bekerja keras. Namun menurut salah seorang rekan kita yg sudah menyelesaikan gelar Ph.D-nya di Aligarh University, yaitu DR. Mujab Mashudi (kakaknya Qisai), kemalasan dg lemahnya kreatifitas kita di panggung internasional adalah karena bangsa kita termasuk dalam kategori bangsa yg masih muda. Bangsa yg masih muda akan cenderung mengikuti tradisi awal sejarah umat manusia; bukan terbiasa membaca tapi berbicara; tidak terbiasa menulis tapi bercerita. Tidak terbiasa bekerja keras, tapi bermalas-malasan.

Betulkah analisa itu? Mungkin juga, setidaknya mengandung sebagian dari kebenaran. Namun, kalau kita terus mengikuti tradisi lama itu (berbicara, bercerita, berdongeng, dll) tanpa ada usaha untuk merubah menuju tradisi modern (membaca, menulis, menganalisa, berperilaku logis dan kerja keras), maka kita akan tetap menjadi bangsa yg selalu “muda” yg selalu perlu disuapin oleh bangsa2 yg lebih “tua” dalam berbagai aspek kehidupan yg kita butuhkan. Itu artinya kita akan selalu mengimpor segala hal dari negara lain: dari perangkat2 keras (mesin, teknologi, tenaga profesional) sampai perangkat2 lunak (ilmu, budaya dan segala trend budaya).

Charity (berderma) dan baca buku memang bukan kebiasaan bangsa yg peradabannya masih backward seperti kita. Tapi bukan berarti tidak bisa dirubah. Barat dan Jepang juga dulu seperti kita. Masalahnya mereka mau merubah diri, sementara kita belum mau memulai.

Siapa yg mesti memulai memimpin bangsa Indonesia menuju trend2 modern yg positif? Tentu saja kita semua, masyarakat Indonesia yg sudah dan sedang mengenyam bangku pendidikan perguruan tinggi.

New Delhi, 13 Oktober 2003

Umum Tags:Refleksi

Post navigation

Previous Post: Tips Cepat Maju dan Progresif
Next Post: Ten celebrities who have spoken up about genocide in Gaza

More Related Articles

Rendah Hati dan Sombong menurut Rasulullah Arab Advanced
Cara kaya tanpa warisan orang tua Umum
Study away from home is not just for the sake of knowledge Study away from home is not just for the sake of knowledge Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern
  • Tangga Menunggu Puncak Keilmuan di Pesantren
  • Gramatika Bahasa Arab: Ilmu Sharaf
  • Gramatika Bahasa Arab: Ilmu Nahwu

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Hukum Bermimpi Bertemu Nabi Muhammad Rasulullah
  • Pengajian 14 Januari 2026: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Tanya Jawab Agama
  • Sahih Bukhari Kitab Kafalah Hadits No. 2290 dan 2291
  • 21 Hadits Tentang Shalat Witir dalam Kitab Bulughul Maram
  • Pengajian 11 Januari 2026: Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna', Konsultasi Islam

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
  • Dalil Haramnya Mengaku Dzuriyah Nabi Tanpa Bukti Otentik
  • KH Hasyim Asy’ari Tidak Punya Guru dari Kaum Habib Ba’alawi
  • Daftar Kitab Nasab Abad 5 – 10 H Yang Mencatat Dzuriyah Nabi Muhammad
  • Summary of Book Ahlussunnah Wal Jamaah: Islam Wasathiyah, Tasamuh, Cinta Damai

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme