Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form

Cara Mengapresiasi seorang Presiden

Posted on June 23, 2024 By A. Fatih Syuhud

Presiden Sukarno dalam biografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Gunung Agung, Jakarta, 1980), bertutur pada Cindy Adams, sang penulis biografi presiden pertama RI itu, bahwa keputusan untuk menjadi presiden seumur hidup adalah semata-mata kehendak DPR. Bukan kehendaknya. Alasannya, karena tidak ada satupun figur yg pantas menjadi penggantinya.

Bung Karno, yg akrab dipanggil BK, adalah pribadi dg berbagai predikat istimewa: negarawan ulung, founding father Indonesia, pemikir, filsuf, dan kehidupan masa mudanya yg aktif dalam gerakan pro kemerdekaan membuat dia juga dikenal sebagai seorang yg egaliter. Dialah inventor istilah Bung dan tradisi pake peci hitam yg umumnya dipakai “kalangan wong cilik” dan sekarang menjadi mentradisi di kalangan pejabat dan para ustadz (soal ini silahkan merujuk ke biografi di atas).

Namun, kehidupan yg penuh pemujaan (baca: penjilatan) oleh orang-orang di sekitarnya membuat sosok sekaliber dia tidak tahan. BK tidak lagi konsisten dg prinsip-prinsip perjuangannya. Kebebasan pers diberangus, tokoh-tokoh yg tak dia sukai ditahan termasuk kalangan budayawan dan agama seperti Buya Hamka dan Mochtar Lubis.

Cerita singkat saya di atas hanya ingin mengingatkan bahwa bagaimanapun senangnya kita pada sosok seorang presiden (sebagai representasi dari kalangan eksekutif/pejabat/birokrat), pada kebijakannya atau pada kepribadiannya, kita tetap perlu bersikap kritis. Kritis tidak berarti selalu menyalahkan; ia juga bermakna apresiasi kalau memang ada yg perlu diapresiasi.

Yg jelas, mengkritisi dan mengapresiasi harus disesuaikan dg realitas dan apa adanya. Kritis, dalam konteks menyikapi kebijakan presiden, bermakna bahwa kita sudah betul-betul well-informed pada plus minus seluruh atau sebagaian besar kebijakannya. Tentunya dg banyak membaca informasi yg terkait. Sebab tanpa itu, pujian/apresiasi atau kritikan kita; akan terkesan parsial at least or stupid at best. Dan kalau ini terjadi, yg menjadi korban adalah kredibilitas kita sendiri.

Di sisi lain, pemujaan yg membuta selain “kurang baik buat kesehatan rohani diri sendiri,” juga akan berdampak tak baik bagi yg dipuji. Kalau BK yg kredibilitas egalitarian dan demokratiknya yg tinggi saja dapat “terhanyut” dan lupa pada perjuangan awal gara-gara orang-orang sekitarnya termasuk rakyatnya yg tak kritis, bagaimana dg SBY yg tidak dikenal memiliki integritas seperti itu.

Memuji memang enak, tak ada resiko. Terkadang malah menguntungkan, terutama kalau yg “dipuji” (saya tak mau memakai istilah menjilat, istilah ini kurang elegan) adalah pejabat yg memang menikmatinya . Tapi, kalau sikap seperti ini tetap dibudayakan, saya kuatir akan masa depan demokrasi di negara kita. Tidak akan ada lagi penghargaan pada perbedaan pendapat. Dan akhirnya, semua “mulut” yg bersuara berbeda akan ditutup, dan yg punya mulut pun akan masuk penjara. Persis seperti yg terjadi pada era BK.

To sum it up, bagi saya mengapresiasi SBY atau siapapun adalah dg memujinya kalau ada yg perlu dipuji, dan mengkritisinya kalau memang ada yg pantas dikritisi kebijakannya.***

Umum Tags:Refleksi

Post navigation

Previous Post: Spirit Pluralisme Bangsa Indonesia
Next Post: Kepandaian Bergaul Salah Satu Kunci Sukses

More Related Articles

Jadi Pengusaha Sukses atau Ilmuwan Top? Umum
فتنةُ السَّرَّاءِ Umum
Perilaku Hidup yang Sportif Perilaku Hidup yang Sportif Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Status Hadits Yang Diucapkan Bilal Jumat
  • Hikmah Penundaan Siksa Dunia bagi Pendosa
  • Maksud Hadits Tidak Paham Isi Al-Quran yang Mengkhatamkannya Kurang dari 3 Hari
  • A Prayer for My Sons
  • Kriteria Ulama Besar di Timur Tengah dan Indonesia

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • 21 Hadits Tentang Shalat Witir dalam Kitab Bulughul Maram
  • Pengajian 11 Januari 2026: Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna', Konsultasi Islam
  • Pengajian 10 Januari 2026: Tafsir Jalalain Surat Hud Ayat 5 sampai 7 plus Konsultasi Agama
  • Hadits tentang Sedekah Istri dari Uang Nafkah Suami
  • Terjemah Kitab Al-Suyuf Al-Mujliyah karya Yasin Al-Kalidar tentang Batalnya Nasab Baalawi

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
  • Dalil Haramnya Mengaku Dzuriyah Nabi Tanpa Bukti Otentik
  • KH Hasyim Asy’ari Tidak Punya Guru dari Kaum Habib Ba’alawi
  • Daftar Kitab Nasab Abad 5 – 10 H Yang Mencatat Dzuriyah Nabi Muhammad
  • Summary of Book Ahlussunnah Wal Jamaah: Islam Wasathiyah, Tasamuh, Cinta Damai

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme