Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form
Lebih Baik Memberi daripada Menerima

Lebih Baik Memberi daripada Menerima

Posted on May 30, 2024May 30, 2024 By A. Fatih Syuhud

Better Give, than Receive

Oleh: A Fatih Syuhud

Catch phrase yg jadi judul tulisan ini adalah kata-kata seorang penyiar CNN tadi malam ketika menyiarkan perihal perayaan Natal di berbagai belahan dunia, di mana, seperti halnya Idul Fitri, adalah hari yg dirayakan dg, antara lain, memberi berbagai hadiah. Pada lebaran Idul Fitri, istilahnya dikenal dg zakat fitrah.

Perlunya Kedermawanan

Agama-agama dunia selalu menekankan dan terkadang “memaksakan” pada para pemeluknya supaya banyak memberi dari pada menerima. Banyak faktor yg mendasari perintah dan anjuran agama pada pemeluknya agar bersikap dan berhati dermawan tsb. Saya ingin sedikit membahasnya dari sudut pandang hubungan sosial.

Pertama, dalam konteks hubungan sosial, orang yg paling dermawan biasanya orang yg paling populer di lingkungannya. Tak peduli apakah dia orang “jahat” atau baik. Kisah Robinhood, si maling budiman, misalnya menunjukkan bahwa seorang penjahat pun tetap akan dicintai lingkungan sekitarnya kalau dermawan. Olo, raja judi dan raja preman di Medan, juga dikenal dermawan. Dan karena itu, ia juga populer di kalangan masyarakat Medan tidak hanya karena kepremanannya, tapi juga kedermawanannya yg suka ringan tangan membantu orang yg membutuhkan.

Dalam kebajikan sosial (social virtue) universal, kedermawanan menempati ranking tertinggi di antara kebajikan-kebajikan lain. Sebutan “Dia orang baik,” dalam perbincangan sehari-hari pasti maksudnya adalah “Dia dermawan.” atau “Dia tidak pelit.”

Betapapun khusyu ibadah ritual kita–rajin salat lima waktu bagi Muslim, atau rajin ke gereja tiap minggu bagi yg Kristen–tetap saja kita tidak akan dianggap sebagai “orang baik” oleh lingkungan sekitar kalau kita pelit. Sebaliknya, kerajinan ritual itu justru jadi bumerang, seperti yg sering kita dengar dalam sebuah obrolan gosip, “Doi rajin ibadahnya, sayang pelit yah.” Atau kata-kata lain yg maksudnya serupa.

Kedua, setiap agama selalu menganjurkan bahkan memaksa pemeluknya untuk derwaman karena, antara lain, manusia punya kecenderungan untuk pelit. Selfishness atau kecintaan manusia pada diri sendiri itu manusiawi dan pada tahap tertentu menguntungkan dalam arti unsur ini mendorong seseorang ingin terus maju dan eksis serta selalu “menang” dalam kompetisi–salah satu unsur yg membuat peradaban manusia bergerak maju dan berkembang, berbeda dg binatang; tetapi apabila tak terkendali dan mencapai level ekstrim bisa berdampak negatif pada tatanan sosial sekitarnya. Korupsi yg luar biasa di negara kita, antara lain, disebabkan oleh adanya unsur selfishness yg tak terkendali di kalangan (kebanyakan) birokratnya.

Ketiga, kecenderungan untuk pelit atau dermawan pada dasarnya bersifat insting individual. Akan tetapi, apabila terus dikampanyekan dan situasinya dibikin kondusif–seperti oleh kebijakan negara, maka ia bisa menjadi tren sebuah bangsa atau tren nasional. Contoh, di Barat, khususnya di Amerika ada tren di kalangan orang kaya untuk berderma atau membuat yayasan sosial untuk membantu orang miskin, membiayai proyek penelitian penyakit/obat-obatan, dll seperti yayasan sosial milik BIll Gates, atau yayasan Alfred Nobel, yayasan beasiswa Ford Foundation, dll. Salah satu unsur kondusifnya adalah karena di Barat, khususnya di Amerika, yayasan sosial seperti ini tidak dikenai pajak.

Kedermawanan, dalam pemahaman saya, tentu saja tidak hanya terbatas pada “kesediaan memberi yg bersifat materi pada orang lain dg tanpa mengharapkan balasan”, tetapi juga kedermawanan dalam sikap, khususnya dari atasan ke bawahan: seorang diplomat yg dg suka rela menghadiri acara yg diadakan lokal staf atau mahasiswa (baca, rakyat), saya anggap sebagai sikap kedermawanan dalam bentuk lain. Kendati demikian, pemberian dalam bentuk materi merupakan kedermawanan “yg paling bisa dimengerti orang banyak.”

Bagaimana dg kalangan miskin yg ingin sekali memberi, tapi tidak memiliki materi yg bisa didermakan? Tetaplah dipelihara keinginan untuk memberi, karena itu akan membuat Anda (yg saat ini miskin) memiliki determinasi kuat untuk kaya agar memiliki sarana untuk memberi. Setidaknya, keinginan kuat untuk memberi akan membuat kita tidak jadi manusia dg mental yg selalu ingin meminta alias mental pengemis. Di samping itu, determinasi jadi pemberi ini akan mengasah jiwa kepedulian kita pada lingkungan sekitar semakin tajam hari demi hari. Seorang dermawan adalah orang yg
peduli pada keadaan sekitarnya.***

New Delhi, 26 Des 2005

Umum Tags:Akhlak Mulia, Refleksi

Post navigation

Previous Post: Kalimat Verbal dan Nominal dalam Bahasa Arab
Next Post: Nilai IPK Tinggi itu Sangat Penting, tapi..

More Related Articles

Contoh Teks MC Bahasa Arab Contoh Teks MC Bahasa Arab Arab Advanced
Bobot Ucapan Ulama tergantung Referensinya Umum
Ayat-ayat tentang Larangan Taqlid dalam Al-Quran Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Kalimat Verbal Masa Sekarang dalam Amiyah Arab Saudi
  • Angka Amiyah Arab Saudi
  • Kalimat Nominal Amiyah Tanya dan Negatif
  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Hukum Memakai Sepatu Sandal saat Ihram Umrah dan Haji
  • Pengajian Kitab Kuning Tafsir Jalalain oleh Pengasuh Pesantren
  • Jual Beli Emas secara Cicilan
  • Hukum Emas Digital dan Jual Beli Emas secara Cicilan
  • Jual Beli Emas secara Online

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Mengapa Habib Baalawi dan Muhibin Menolak Kajian dan Data Ilmiah
  • Jejak Syiah di Balik Pengarang Simṭud Durar
  • Mengapa Ulama Dahulu Menerima Klaim Ba‘alawi sebagai Cucu Nabi?
  • Ketika Banyak Kiai NU Memilih Ilmu, Bukan Darah Keturunan
  • Kemungkinan Mengapa DNA Bani Hasyim Ada Yang Berhaplogrup Bukan J1.

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme