Lebih Baik Memberi daripada Menerima

Lebih Baik Memberi daripada Menerima

Better Give, than Receive

Oleh: A Fatih Syuhud

Catch phrase yg jadi judul tulisan ini adalah kata-kata seorang penyiar CNN tadi malam ketika menyiarkan perihal perayaan Natal di berbagai belahan dunia, di mana, seperti halnya Idul Fitri, adalah hari yg dirayakan dg, antara lain, memberi berbagai hadiah. Pada lebaran Idul Fitri, istilahnya dikenal dg zakat fitrah.

Perlunya Kedermawanan

Agama-agama dunia selalu menekankan dan terkadang “memaksakan” pada para pemeluknya supaya banyak memberi dari pada menerima. Banyak faktor yg mendasari perintah dan anjuran agama pada pemeluknya agar bersikap dan berhati dermawan tsb. Saya ingin sedikit membahasnya dari sudut pandang hubungan sosial.

Pertama, dalam konteks hubungan sosial, orang yg paling dermawan biasanya orang yg paling populer di lingkungannya. Tak peduli apakah dia orang “jahat” atau baik. Kisah Robinhood, si maling budiman, misalnya menunjukkan bahwa seorang penjahat pun tetap akan dicintai lingkungan sekitarnya kalau dermawan. Olo, raja judi dan raja preman di Medan, juga dikenal dermawan. Dan karena itu, ia juga populer di kalangan masyarakat Medan tidak hanya karena kepremanannya, tapi juga kedermawanannya yg suka ringan tangan membantu orang yg membutuhkan.

Dalam kebajikan sosial (social virtue) universal, kedermawanan menempati ranking tertinggi di antara kebajikan-kebajikan lain. Sebutan “Dia orang baik,” dalam perbincangan sehari-hari pasti maksudnya adalah “Dia dermawan.” atau “Dia tidak pelit.”

Betapapun khusyu ibadah ritual kita–rajin salat lima waktu bagi Muslim, atau rajin ke gereja tiap minggu bagi yg Kristen–tetap saja kita tidak akan dianggap sebagai “orang baik” oleh lingkungan sekitar kalau kita pelit. Sebaliknya, kerajinan ritual itu justru jadi bumerang, seperti yg sering kita dengar dalam sebuah obrolan gosip, “Doi rajin ibadahnya, sayang pelit yah.” Atau kata-kata lain yg maksudnya serupa.

Kedua, setiap agama selalu menganjurkan bahkan memaksa pemeluknya untuk derwaman karena, antara lain, manusia punya kecenderungan untuk pelit. Selfishness atau kecintaan manusia pada diri sendiri itu manusiawi dan pada tahap tertentu menguntungkan dalam arti unsur ini mendorong seseorang ingin terus maju dan eksis serta selalu “menang” dalam kompetisi–salah satu unsur yg membuat peradaban manusia bergerak maju dan berkembang, berbeda dg binatang; tetapi apabila tak terkendali dan mencapai level ekstrim bisa berdampak negatif pada tatanan sosial sekitarnya. Korupsi yg luar biasa di negara kita, antara lain, disebabkan oleh adanya unsur selfishness yg tak terkendali di kalangan (kebanyakan) birokratnya.

Ketiga, kecenderungan untuk pelit atau dermawan pada dasarnya bersifat insting individual. Akan tetapi, apabila terus dikampanyekan dan situasinya dibikin kondusif–seperti oleh kebijakan negara, maka ia bisa menjadi tren sebuah bangsa atau tren nasional. Contoh, di Barat, khususnya di Amerika ada tren di kalangan orang kaya untuk berderma atau membuat yayasan sosial untuk membantu orang miskin, membiayai proyek penelitian penyakit/obat-obatan, dll seperti yayasan sosial milik BIll Gates, atau yayasan Alfred Nobel, yayasan beasiswa Ford Foundation, dll. Salah satu unsur kondusifnya adalah karena di Barat, khususnya di Amerika, yayasan sosial seperti ini tidak dikenai pajak.

Kedermawanan, dalam pemahaman saya, tentu saja tidak hanya terbatas pada “kesediaan memberi yg bersifat materi pada orang lain dg tanpa mengharapkan balasan”, tetapi juga kedermawanan dalam sikap, khususnya dari atasan ke bawahan: seorang diplomat yg dg suka rela menghadiri acara yg diadakan lokal staf atau mahasiswa (baca, rakyat), saya anggap sebagai sikap kedermawanan dalam bentuk lain. Kendati demikian, pemberian dalam bentuk materi merupakan kedermawanan “yg paling bisa dimengerti orang banyak.”

Bagaimana dg kalangan miskin yg ingin sekali memberi, tapi tidak memiliki materi yg bisa didermakan? Tetaplah dipelihara keinginan untuk memberi, karena itu akan membuat Anda (yg saat ini miskin) memiliki determinasi kuat untuk kaya agar memiliki sarana untuk memberi. Setidaknya, keinginan kuat untuk memberi akan membuat kita tidak jadi manusia dg mental yg selalu ingin meminta alias mental pengemis. Di samping itu, determinasi jadi pemberi ini akan mengasah jiwa kepedulian kita pada lingkungan sekitar semakin tajam hari demi hari. Seorang dermawan adalah orang yg
peduli pada keadaan sekitarnya.***

New Delhi, 26 Des 2005

Scroll to top