Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form
Membaca Sebagai Gaya Hidup (2)

Membaca Sebagai Gaya Hidup (2)

Posted on May 29, 2024May 29, 2024 By A. Fatih Syuhud

Semua orang tahu, membaca itu perlu dan sangat bermanfaat. Membaca membuat cewek cakep menjadi semakin menarik dan “shiny”; dan cewek tidak cantik pun menjadi terlihat menarik. Membuat cowok keren menjadi semakin berkarisma; dan cowok yg biasa-biasa saja menjadi tampak gaya.

Sebaliknya, cewek atau cowok cakep yg tidak brainy (karena jarang atau tidak pernah membaca) betul-betul sangat membosankan, baik sebagai pribadi apalagi sebagai lawan bicara. Sejam atau dua jam berbicara dg mereka mungkin masih menarik karena periode ini biasanya dipakai untuk bertukar pengalaman dan kisah. Namun, tahankah kita berbicara dg bahan yg sama berulang-ulang? Dan tidak bosankah kita mendengar kisah atau penuturan lanjutannya yg hanya berupa gosip-gosip sampah terbaru? Anda pasti tidak akan tahan, kecuali apabila Anda satu golongan dengan mereka. Kalau cewek atau cowok cakep yg tidak gemar baca membuat kita bosan, bagaimana dg cewek atau cowok yg tidak cakep dan tidak gemar baca?

***

Membaca membuat otak yg awalnya cuma berisi “batu” berubah jadi zamrud; otak yg awalnya berbentuk kerang berubah menjadi mutiara; otak yg awalnya berbentuk pasir berubah menjadi emas. Isi otak kita adalah representasi dan akan meresonansi (menggaung) pada kepribadian dan perilaku keseharian kita dalam merespons terhadap sesuatu hal. Dan respons kita pada suatu atau banyak hal itu akan menentukan apakah kita pribadi yg brainy atau dummy.

Kendati begitu pentingnya gemar baca, tapi secara faktual membaca tidak menjadi tradisi generasi muda kita. Generasi muda Indonesia yg pengangguran atau yg sibuk bekerja kasar seharian di lapangan mungkin dapat dimaklumi apabila tidak suka atau tidak sempat membaca. Bagaimana dg mahasiswa atau masyakarat Indonesia yg bekerja “santai” di kantor tapi tidak suka membaca? Mengapa membaca tidak menjadi trend di kalangan mereka, khususnya di kalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa Indonesia di India? Bukankah mahasiswa identik dg tradisi intelektual yg tak dapat dicapai tanpa gemar membaca?

Ada beberapa faktor, pertama, sikap malas. Insting awal manusia umumnya pemalas. Namun, ego manusia –yg ingin eksistensinya diakui manusia lain–telah memaksa manusia untuk berbuat sesuatu untuk melawan insting malas tadi. Sayangnya, jalan menuju “pengakuan eksistensi” itu tidak dilakukan dg membaca.

Kedua, membaca dianggap sebagai suatu hal yang “tidak trendy” dan “tidak keren”. “Kutu buku” adalah julukan bagi mereka yang suka baca. Istilah ini membuat yg gemar baca jadi defensif dan terpojok. Sebaliknya, kalangan yg tidak suka baca semakin menjauh bukan malah mendekat.

Istilah memojokkan seperti itu hendaknya diganti dg istilah lain yg dapat lebih menarik generasi muda dan siapa saja yg belum menjadikan gemar baca sebagai life-style.

Membaca apa?

Apa yg harus dibaca? Menurut dr. Kartono Mohamad– mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kolomnis di berbagai media cetak dan anggota milis nasional ppiindia– mengatakan: “Bacalah apa saja yg Anda suka!” Koran, majalah, buku, komik, milis, dll. Membaca membuat kita tidak kekurangan bahan untuk berbicara dan menulis. Membaca membuat kita bisa berbicara dg siapa saja sesuai dg profesi lawan bicara kita. Bukan lawan bicara kita yg harus beradaptasi dg kita.

Salah satu perbedaan antara pribadi yg civilized (berperadaban) dg yg masih “tribal (kampungan)” adalah yg pertama bisa beradaptasi dg yg kedua; sementara yg kedua–disadari atau tidak– selalu menuntut agar orang lain beradaptasi dg dia.

Mahasiswa yg kuliah dan selalu naik tingkat itu indah. Dan mahasiswa yg gemar membaca dan tidak kampungan dalam bersikap dan merespons fenomena yg terjadi di sekitarnya–di level lokal, nasional dan internasional–akan lebih indah lagi.***

New Delhi, 6 Juni 2005

Umum Tags:Akhlak Mulia, Refleksi

Post navigation

Previous Post: Membaca sebagai Gaya Hidup (1)
Next Post: Kalimat Verbal dan Nominal dalam Bahasa Arab

More Related Articles

Cara kaya tanpa warisan orang tua Umum
Belajar dari Kisah Cinta Pangeran Charles dan Camilla Belajar dari Kisah Cinta Pangeran Charles dan Camilla Umum
Cara Menulis Abstrak dan Contohnya Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Kalimat Verbal Masa Sekarang dalam Amiyah Arab Saudi
  • Angka Amiyah Arab Saudi
  • Kalimat Nominal Amiyah Tanya dan Negatif
  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Hukum Memakai Sepatu Sandal saat Ihram Umrah dan Haji
  • Pengajian Kitab Kuning Tafsir Jalalain oleh Pengasuh Pesantren
  • Jual Beli Emas secara Cicilan
  • Hukum Emas Digital dan Jual Beli Emas secara Cicilan
  • Jual Beli Emas secara Online

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Mengapa Habib Baalawi dan Muhibin Menolak Kajian dan Data Ilmiah
  • Jejak Syiah di Balik Pengarang Simṭud Durar
  • Mengapa Ulama Dahulu Menerima Klaim Ba‘alawi sebagai Cucu Nabi?
  • Ketika Banyak Kiai NU Memilih Ilmu, Bukan Darah Keturunan
  • Kemungkinan Mengapa DNA Bani Hasyim Ada Yang Berhaplogrup Bukan J1.

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme