Skip to content
logo 1

fatihsyuhud.com

Sidenotes in English, Arabic and Bahasa

  • Home
  • Bahasa Arab
    • Pemula
    • Percakapan
    • Gramatika
    • Menengah
  • Arab Advanced
    • Cara Berlatih Kalimat Verbal dan Nominal
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sains
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Tenis
      • Badminton
      • Bola basket
      • Bola Voli
  • Buku
    • Ahlussunnah Wal Jamaah
    • Jihad Keluarga
    • Islam dan Politik
    • Akhlak Rasul dan Para Sahabat
    • Arab Modern dan Amiyah
    • Pendidikan
    • Bahagia
    • Keluarga Sakinah
    • Kebangkitan Islam dengan Pendidikan
    • Akhlak Mulia
    • Wanita Muslimah
    • Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam
  • About
    • About Me
    • Publications
    • Arabic
    • BOW
    • Privacy Policy & Contact
  • English
  • Toggle search form
Mengapa Kaum Santri Tidak Toleran pada Perbedaan

Mengapa Kaum Santri Tidak Toleran pada Perbedaan

Posted on August 22, 2024 By A. Fatih Syuhud

SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT ADALAH KUNCI PERSATUAN UMAT

Orang mengira bersatu itu adalah sama dalam semua hal. Itu tidak benar. Karena berlawanan dengan fitrah manusia seperti disebut dalam QS ِal-Hujurat 49:13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Bersatu maksudnya adalah memberikan ruang untuk berbeda.

Sepakat untuk tidak sepakat. Tanpa ada rasa sakit hati dan benci.

Karena, dalam diskusi itu tidak harus menang dan kalah. Melainkan menyampaikan pendapat yang diyakini benar menurut perspektif masing-masing.

Intoleransi Kaum Santri

Sebagian santri tidak paham konsep ini sehingga membuat mereka tidak toleran pada perbedaan. Dan salah satu bentuk intoleransi itu adalah a) memaksa orang lain harus sama dengan pendapatnya; b) yang tidak sama dianggap “musuh”; c) dengan memberikan stigma atau label buruk pada yang berbeda. Seperti label PKI, Syiah, Wahabi, Khawarij, kafir, syirik, murtad, sesat, dll.

Santri Menjadi Toleran setelah Kuliah Sampai S3

Umumnya, santri yang tidak toleran pada pendapat yang berbeda adalah mereka yang tidak melanjutkan studinya ke jenjang universitas. Atau, melanjutkan studi tapi terbatas sampai S1. Saya melihat santri yang sudah masuk ke jenjang S2 atau S3 memiliki mindset yang berbeda. Dalam arti, dapat melihat suatu perbedaan secara lebih luas dan lebih terbuka.

Kalau ada santri yang sudah S3 akan tetapi memiliki sikap intoleran dalam menyikapi perbedaan, maka ada dua kemungkinan: a) faktor kepentingan pribadi atau kelompok terganggu sehingga bukan kebenaran yang dicari, atau b) tidak betul-betul menghayati hakikat penelitian yang sudah pernah dilakukannya selama menempuh jenjang S3-nya.

Padahal Imam Syafi’i saja bisa berbeda dengan gurunya, Imam Malik, dan berbeda dengan muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal dalam nuansa tetap saling menghormati dan saling mengagumi. Tanpa saling ad hominem (lihat: ad hominem)

Kata Imam Syafi’i:

«رأيى صواب يحتمل الخطأ، ورأى غيرى خطأ يحتمل الصواب»

“Pendapatku benar, tapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tapi mungkin benar.”

Yang mengaku pengikut mazhab Syafi’i ada baiknya menghafal prinsip ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Umum Tags:Refleksi

Post navigation

Previous Post: Billionaires who read many books
Next Post: Fitnah dalam Al-Quran Jumlah Kata dan Makna

More Related Articles

Ayat-ayat tentang Larangan Taqlid dalam Al-Quran Umum
Korupsi Para Hakim Umum
Muslim dan Amal yang Paling Disukai Allah [hadits] Umum

Daftar Isi

  • Refleksi
  • English Notes
  • Belajar Bahasa Arab bagi Pemula
  • Bahasa Arab Media (Tingkat Lanjut)
  • Bahasa Arab Saudi (Amiyah)

Trending

Most Recent

  • Kalimat Verbal Masa Sekarang dalam Amiyah Arab Saudi
  • Angka Amiyah Arab Saudi
  • Kalimat Nominal Amiyah Tanya dan Negatif
  • Bahasa Arab Amiyah Saudi untuk Jamaah Haji dan Umrah
  • Belajar Bahasa Arab Modern

About Fatih Syuhud


A. Fatih Syuhud (full name: Ahmad Fatih Syuhud) is an Indonesian Islamic scholar, educator, prolific author, and the director of Pondok Pesantren Al-Khoirot in Malang, East Java, Indonesia.He is known for his work in Islamic studies, pesantren (Islamic boarding school) education, and writing extensively on topics related to Islam, tafsir (Quranic exegesis), education, history, and contemporary Muslim issues.

All his published books are also available online here.

alkhoirot.net

  • Bab Shalat Musafir Jamak Qashar | Terjemah Kitab Iqna' Syarah Taqrib
  • Pengajian Kitab Kuning Minggu, 25 Januari 2026 oleh Pengasuh Pesantren Al-Khoirot
  • Talak Tafwid dalam Mazhab Syafi'i
  • Pengajian Kitab Kuning Pengasuh Pesantren Al-Khoirot, Sabtu 23 Januari 2026
  • Agama itu Mudah yang Mempersulit akan Kalah

fatihsyuhud.net

  • Biography of Ahmad Fatih Syuhud
  • Buku Ahlussunnah Wal Jamaah: Toleran, Moderat, Cinta Damai
  • Hukum Mencium Tangan Ulama, Orang Tua, Pejabat
  • Sikap Anak Muslim pada Orang Tua Non-Muslim
  • Hukum Tahlilan dan Syukuran menurut Pandangan Ulama Aswaja dan Salafi (Non-Wahabi)

islamiy.com

  • Kemungkinan Mengapa DNA Bani Hasyim Ada Yang Berhaplogrup Bukan J1.
  • 17 Perbedaan Ajaran Aswaja NU dan Habib Ba’alawi
  • Peneliti Yaman Bantah Klaim Nasab Lebih Utama daripada Ilmu yang Diatribusikan ke Ibnu Hajar Haitami
  • Dalil Haramnya Mengaku Dzuriyah Nabi Tanpa Bukti Otentik
  • KH Hasyim Asy’ari Tidak Punya Guru dari Kaum Habib Ba’alawi

Copyright © 2026 fatihsyuhud.com.

Powered by PressBook Green WordPress theme